Yogyakarta, kota yang tidak begitu aku kenal. Kunjunganku sebelum ini bisa  dihitung dengan jari, mungkin baru 2x. Walaupun pada tahun 1997 aku pernah tinggal selama 1 bulan, ketika dulu waktu liburan kuliah, aku sempat magang di sebuah perusahaan dan ditugaskan ke Yogyakarta. Tidak banyak yang kuingat kala itu, perjalananku hanya dari tempat aku menginap sampai di kantor client.
Sekarang aku ‘kembali’ ke Yogyakarta, mencoba mengenal seluk beluk Yogyakarta.  Tidak banyak yang aku kenal di kota ini, walaupun beberapa teman SMA ku katanya ada yang tinggal di sini tetapi belum sempat aku kontak. Aku memulai penjelajahanku dengan ditemani oleh GV-ku dan tentu saja GPS yang sangat membantuku .. you can travel like a pro :).

Hari pertama di Yogyakarta diwarnai dengan insiden .. aku tidak berhati-hati  ketika berbelok dan 2 sepeda motor saling bertabrakan karena kaget dan menghindari mobilku. Banyak orang berdatangan untuk menolong dan aku menjadi pelaku (huhuhu). ‘mbake ngaku salah mboten?’ tanya seseorang kepadaku dengan sopan (hehehe kalo di Jakarta mungkin aku sudah dibentak-bentak :D). Aku  mengangguk, karena memang waktu aku memberikan sign, jarak antara motor di belakangku dan mobilku sudah terlalu dekat. ‘nggih monggo saniki mbake tanggung  jawab’ .. begitu katanya. Seorang bapak yang baik hati membantuku bernegosiasi dengan para korban, sehingga semuanya diakhiri dengan damai 🙂 Untung saat itu tidak ada polisi maupun wartawan.. hehehe kan sekarang trend-nya banyak mengemudi mobil yang ngawur .. (mudah-mudahan aku bukan salah satunya). Yogyakarta, kota yang penuh dengan sopan santun dan tatakrama, aku harus mulai belajar, dan sejak saat itu aku sangat hati-hati jika ingin melintas, berbelok atau memutar.

Menjelajahi kota Yogyakarta tidaklah sulit bagi yang punya kendaraan — di Yogyakarta jarang sekali dijumpai angkot, orang umumnya bepergian dengan menggunakan motor/mobil. Ada Trans Yogya, tetapi tidak seperti Trans Jakarta, tidak ada jalur khusus, dan sepertinya baru melewati jalur-jalur tertentu saja. Taxi juga jarang (setauku). Menjelajah dari timur ke barat, utara ke  selatan (ibaratnya mengitari pinggiran kota Jakarta) bisa ditempuh dalam waktu yang tidak terlalu lama, mungkin karena tidak semacet Jakarta. Tapi perasaan sejak di Yogyakarta, konsumsiku bensinku malah makin boros, kenapa? karena harga pertamax di sini mencapai Rp 9.100,-, mungkin lebih mahal Rp 600,- dibanding Jakarta, dan juga keinginan untuk menjelajah begitu tinggi (hehehe jiwa pertualanganku tersalur). Menjelajahi kota Yogyakarta kulakukan tentu bukan sekedar untuk berjalan-jalan, semuanya berhubungan dengan persiapanku dalam membangun bisnisku. Semua informasi aku dapatkan lewat internet, dan hampir setiap hari aku membuat itinerary mengenai tempat-tempat yang akan kukunjungi.  Ketergantunganku pada GPS sangat tinggi, pernah suatu ketika di tengah  perjalanan GPS ku mati (tepatnya tab-ku nge-hang), terpaksa aku pulang dan membatalkan itinerary ku di hari itu. Tapi semua kejadian selalu ada hikmah, karena ketika aku membatalkan rencanaku dan mengganti dengan itenerary ke tempat yang aku lebih tau, justru aku dipertemukan dengan tempat/orang yang benar-benar aku butuhkan saat ini. Alhamdulillah …

Penjelajahanku tidak terbatas di dalam kota Yogyakarta. Aku banyak mengunjungi  sentra-sentra pengrajin batik di Imogiri dan Kulonprogo… dan GPS membantu menunjukan jalannya 🙂 Dari desa yang jauh dan terpencil di Kulonprogo, yang pada saat pertama aku berkunjung, ada sedikit perasaan was-was karena jalan yang kulewati dikelilingi oleh rerimbunan hutan dan jarang sekali rumah penduduk di sepanjang jalan tersebut. Tapi akhirnya sampai juga di desa yang dituju dan dari situ pengetahuan mengenai batik mulai didapat dari ngobrol-ngobrol dengan para pengrajin. Dari pengrajin pula, ditunjukan jalan pulang yang lebih ramai, tetapi jarak tempuhnya lebih jauh dan jalannya berkelok-kelok dan naik turun. Ternyata GPS memberikan shortest path 🙂 tetapi tidak menginformasikan kondisi jalur yang akan ditempuh.

Sentra pengrajin batik di Yogyakarta banyak tersebar di Imogiri, Kulonprogo dan  Gunungkidul. Batik imogiri banyak didominasi oleh batik-batik dengan pewarna alam, kualitasnya sangat bagus (baik dari segi jenis kain maupun kehalusan pengerjaannya) dan tentu saja harganya mahal, karena sekali pengerjaan bisa memakan waktu 1 – 3 bulan (wow). Warna alam bisa didapat dari berbagai jenis bunga, kulit kayu maupun buah. Ciri khasnya, untuk warna alam warnanya tidak secerah warna sintetis (kalo istilah orang jawa bladus), tetapi justru itu yang menjadikan kekhasannya sangat indah. Batik Kulonprogo terkenal murah, bahkan jika dibandingkan dengan batik Kebumen, Solo maupun Pekalongan. Tetapi ada juga yang mahal untuk batik tulis dengan motif dan warna-warna klasik. Dari ngobrol-ngobrol dengan para pengrajin, aku mulai belajar mengenai jenis kain, kualitas kain, membedakan jenis batik (tulis, cap, kombinasi, printing), mengenal trend produksi dan cara produksi. Kebanyakan pengrajin walaupun notabene-nya orang-orang desa tapi dari cara berbicara dan berfikirnya mereka cukup intelek. Jangan pernah menilai orang dari penampilan luarnya 🙂

Perjalananku menjelajahi kota yogyakarta dan sekitarnya menjadi hiburan tersendiri buatku, seru! Kadang aku ingin menelusuri sampai ke ujung, tapi aku selalu diwanti-wanti oleh ibuku ‘hati-hati!’, ‘jangan pergi sendiri!’ … hehehe ya ya. Teman baruku juga bercerita mengenai suatu tempat yang suatu saat bisa aku kunjungi, namanya Puncak Suloyo (di googling nggak bakal ketemu, karena nama itu diberikan olehnya dan teman-temannya). Dari situ pemandangan katanya sangat indah dan kita bisa melihat seluruh garis pantai di Yogyakarta mulai dari pantai Krakal sampai Parangtritis .. suatu saat aku ke sana, tapi sekarang sepertinya aku harus kembali fokus pada bisnisku 🙂

 

It's only fair to share...Email this to someoneShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on Pinterest