July 29, 2021

Berfokus Pada Apa yang Bisa Dilakukan

Hampir satu bulan aku mencoba fokus dengan bisnisku, tepatnya tgl 20 Januari  2012 yang lalu aku mulai tinggal di Yogyakarta. Dalam kurun waktu itu, aku mencoba menjalankan sesuatu seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Beberapa bisa dilakukan beberapa tidak bisa dilakukan. Banyak juga pendapat dan saran dari teman-teman mengenai penting tidaknya dan perlu tidaknya sebuah rencana .. katanya “Bob Sadino menjalankan usaha tidak pake rencana” (yah Bob Sadino kan sudah sangat piawai), “rencana jangan terlalu detil”, dsb. Buatku sebuah rencana sangat diperlukan, paling tidak aku punya guideline apa akan aku capai, apa yang harus aku kerjakan. Rencana adalah gambaran dari apa yang paling ideal … karena di dunia tidak ada yang sangat ideal, maka bisa dimaklumi bila suatu rencana tidak bisa 100% diimplementasikan .. paling tidak saat ini, buatku yang baru dalam taraf belajar. Dalam kuliah stategic management, ada yang namanya intended strategy dan emergent strategy .. jadi perumusan rencana dan strategi memang sesuatu yang bisa bersifat sangat dinamis. Jadi mari kita berfokus pada apa yang bisa dilakukan, bukan apa yang tidak bisa dilakukan 🙂
Konsep-konsep yang dulu aku pelajari, mau tidak mau banyak mempengaruhi  idealismeku, seperti konsep optimasi, just in time, zero defect, zero stock dll. Di awal inisiasi bisnis tentu saja konsep-konsep itu jadi rencana nantinya, karena fokus di awal lebih pada membangun jaringan, menarik customer, mendapatkan resource, memastikan supply chain, membuat alur produksi dan memastikan kualitas. Sewaktu aku berkeliling ke vendor-vendor batik, yang mana batik merupakan salah satu bahan baku produksiku, yang terpikir adalah bagaimana caranya mengadopsi konsep just in time, di mana bahan baku tersedia tersedia pada saat dibutuhkan, tidak disimpan di dalam inventory. Konsep ini bagus dan sangat mungkin untuk bisa diimplementasikan, tetapi tidak sekarang. Kenapa? (1) Untuk membangun “voluntary” involvement tidak mudah; kepercayaan harus dibangun terlebih dahulu, benefit harus ditunjukan lebih dulu. Walupun dari ngobrol-ngobrol dengan mereka, mereka sangat welcome .. (2) infrastuktur yang masih belum memadai; ketersediaan jaringan internet menjadi syarat mutlak untuk memperlancar komunikasi. Komputer/internet masih menjadi barang langka di daerah pedesaan, hampir belum memungkinkan untuk mensyaratkan ketersediaan internet saat, walaupun sebenarnya bisa saja jika mau berinventasi untuk pengadaannya. Kira-kira begitulah … selebihnya ternyata berkeliling dan berbelanja sangat menyenangkan 😀 **kalo ini nggak banget deh**
Mendapatkan resource (sdm) juga menjadi tantangan tersendiri, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Sekarang jamannya sudah home office, mendapatkan tenaga kerja outsource/freelance lebih mudah dibanding mendapatkan tenaga kerja yang bekerja di tempat kerja/kantor .. paling tidak ini yang aku temui di Yogyakarta. Tidak terkecuali untuk tenaga jahit. Dari beberapa wawancara dengan pelamar, hampir semuanya meminta untuk membawa pulang pekerjaannya untuk bisa dikerjakan di rumah. Ternyata hal seperti ini juga dialami oleh beberapa rumah jahit yang notabene nya sudah berkecimpung lama di bisnis seperti ini. Dari hasil berkelilingku ke beberapa LPK dan rumah jahit, ternyata saat ini hal ini sedang menjadi trend .. wah bagus dong, artinya ekonomi mandiri saat ini sedang berkembang. Mungkin ke depannya aku harus mulai berfikir untuk membuat semacam “produksi terdistribusi”, tetapi saat ini memastikan kualitas product menjadi yang paling utama buatku. Demikian juga dari hasil berkelilingku ke beberapa SMK, tingkat serapan lulusan SMK terutama tata busana/rias/boga mencapai lebih dari 90% dan selebihnya memilih untuk usaha sendiri atau meneruskan ke bangku kuliah. Dan untuk lulusan baru, baru akan tersedia setelah ujian nasional yaitu di pertengahan April. Oya, jangan berfikir kalo lulusan SMK bisa langsung bisa bekerja loh .. demikian info yang aku dapat dari beberapa rumah jahit, dan  kenyataannya memang banyak lulusan SMK yang masih mengambil kursus untuk benar-benar bisa menjahit. Tapi kebutuhanku akan tenaga jahit sebenarnya sebatas untuk memotong, menjahit dan finishing, sedangkan untuk design dan pattern making dikerjakan oleh yang lebih ahli.
Sebagai pemula di dunia fashion design dan jahit menjahit, aku sangat  membutuhkan bekal yang cukup untuk bisa berjalan dan berkembang di bisnis ini. Pencarianku akan fashion designer mempertemukanku dengan Pak Sanny Poespo. Dulu aku hanya mengenalnya dari buku-buku karangannya, beliau sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia mode bersama kakaknya Pak Goet Poespo yang seorang perancang mode. Waktu itu aku sedang berkunjung ke PAPMI Yogya dan ngobrol-ngobrol dengan salah seorang pengurus dan secara iseng aku tanyakan mengenai Pak Sanny (sebelumnya aku tidak tahu kalau beliau tinggal di Yogyakarta, hanya dari penerbit bukunya beralamat di Yogyakarta). Alhamdulillah aku mendapatkan informasinya walaupun hanya berupa ancer-ancer .. “coba mba tanya ke tukang-tukang bakso yang jualan di sekitar kawasan Monumen Yogya Kembali”. Singkat cerita, akhirnya aku menemukan workshop-nya yang sangat sederhana di sekitar kawasan Monumen Yogya Kembali. Aku menceritakan mengenai rencana bisnisku dan kebutuhanku akan fashion designer dan pattern maker, beliau mengatakan untuk lebih baik bekerja sama dan beliau akan membantu jika ada kesulitan. Jadilah aku mulai berguru, mengulang kembali pelajaran yang pernah aku dapat sebelumnya, walaupun ada sedikit perbedaan acuan (sistem yang dipakai untuk pembuatan pola) yang dipakai. Kalau di dunia pattern making, ada banyak acuan yang bisa diikuti, misalnya sistem soen, dressmaking, dan masih banyak lagi yang mana biasanya tiap sekolah/kursusan mengacu pada sistem tertentu. Dan dalam 1 sistem pun bisa ada perbedaan, karena ada acuan generasi pertama, kedua, dsb. Seperti misalnya di sini sistem yang dipakai sebenarnya sama dengan yang aku pelajari sebelumnya tetapi ada perbedaan generasi yang dipakai. Tapi pak Sanny orangnya tidak suka mendikte ..”kamu coba aja 2-2 nya, nanti kamu bisa menilai dan memilih mana yang lebih nyaman dipakai”. Beliau juga suka mendorongku untuk berbuat yang lebih .. “sebagai perancang, kamu harus punya nama” .. beliau
menyarankanku untuk mengikuti salah satu fashion show, sebuah event tahunan yang di selenggarakan di Yogyakarta. Tentu tidak sekarang ya, wong saat ini masih belajaran 🙂 Beliau juga banyak bercerita mengenai sejarah mode dan memperlihatkan buku-buku referensinya “kamu lihat, mode tahun 60 an sampai saat ini masih ‘in’ … mode itu akan berulang”. Gambar-bambar yang dibuatnya juga sangat indah, detil dan halus .. “wah bisa sebagus ini ya pak?” kataku .. “itu masalah jam terbang saja, kalo kamu tekun berlatih kamu pasti bisa”.
Jadilah saat ini aku mulai belajar menggambar. Walaupun dulu waktu SD sempat  beberapa kali menjuarai lomba menggambar, tetapi aku merasa tidak berbakat, kakakku jauh lebih berbakat, tetapi sayangnya waktu itu kakakku tidak berkesempatan mengikuti lomba apapun :(. Dulu waktu kakakku kelas 4 SD, kakakku sudah bisa membuat buku-buku baik cerpen maupun komik, lengkap dengan alur cerita dan ilustrasinya. Buku-buku itu sebenarnya hanya lembaran-lembaran kertas yang kami satukan (tidak seperti cetak buku seperti saat ini). Hebatnya buku-buku itu banyak peminatnya, paling tidak aku dan teman-temannya yang suka meminjamnya 🙂 .. luar biasa bukan? Bakat menggambarnya mungkin diturunkan dari ayahku. Seingatku, dulu ayahku memang pandai menggambar/melukis, salah satu peninggalannya adalah lukisan kepulauan Indonesia di tembok belakang rumah kami. Aku terus meng-encourage kakakku untuk mengembangkan dan memanfaatkan bakatnya itu … paling tidak untuk membantuku hehehe. Sampai saat ini pun gambarnya masih sebagus dulu, hanya perlu lebih banyak berlatih. Oya, ternyata kebanyakan fashion designer itu tidak bisa membuat pola maupun menjahit lho .. Jadi mereka hanya menggambar sesuai dengan imajinasi mereka, dan implementasinya mereka serahkan kepada pattern making atau tukang jahit. Biasanya di sekolah-sekolah fashion, jurusan fashion design dan menjahit memang dibedakan.
Banyak hal yang masih harus aku lakukan, mempersiapkan sistem adalah salah  satunya. Alhamdulillah ada programmer yang membantuku menterjemahkan rancangan sistem yang kubuat ke dalam bentuk kode, ada web designer yang desainnya selalu aku suka dan banyak memberikan ide, ada graphic designer yang mudah-mudahan dengan pengetahuannya di bidang desain komunikasi visual dapat membantuku menterjemahkan ide yang rumit ke dalam bahasa dan ilustrasi sehingga mudah dipahami. Dan masih banyak lagi hal lainnya. Mudah-mudahan apa yang aku rencanakan perlahan bisa mulai terwujud .. kok perlahan sih? padahal sudah banyak yang menanyakan “kapan bisa pesan?”, “aku pesan sekarang aja gimana?” “gimana  caranya pesan?” “loh katanya awal Maret” .. “nanti kehilangan moment loh” .. hehehe, aku usahakan semampuku sambil kunikmati prosesnya. Mudah-mudahan antusiasme itu suatu pertanda yang bagus untuk bisnisku.

6 thoughts on “Berfokus Pada Apa yang Bisa Dilakukan

  1. Tulisan di blog km , koq aku merasa meliat acara di salah satu stasiun televisi..”Bosan Jadi Karyawan…”, Sukses ya..:)

    1. aku malah lom pernah nonton acaranya 🙂 .. wah aku bisa jadi penulis script/naskah dong heheh
      Thx Win, jangan bosen *dulu* jadi karyawan 😀

  2. Wuiiddiiihhh….keren nih perjalanannya 😉 kudu sering2 mampir kesini nih, biar update teruuuusss 😉 jadi pengen main ke jogja dech 😉

    1. niy lagi belajar menulis dan bercerita oe 🙂 .. bisa juga subscribe loh B-) **hehehe**, karena waktu itu ada yang nanya cara subscribe-nya gimana, jadi aku pasang fitur untuk subscribe. Hayoo sini main ke yogya, bareng ma iin ma elsi katanya mo nonton sendratari ramayana di prambanan, tapi nunggu iin libur kuliah dulu katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *