Loh kok tiba-tiba jadi lurik? Batiknya apakabar?

Kemarin kita ada pemotretan untuk katalog baru Fitinline, dan kali ini material yang dipakai adalah kain Lurik. Kenapa ┬áLurik? Awalnya beberapa pengrajin lurik datang ke tempatku. Mereka membawa beberapa sample lurik dan meninggalkan beberapa kain dengan berbagai motif. Kupikir lucu juga kalo dibuat baju, karena aku lihat motif-motif-nya cukup modern dari segi warna. Tapi tidak seperti baju batik yang sedang booming, baju lurik sepertinya masih jarang dipakai, terutama baju lurik yang dipakai oleh anak muda. Namun kain lurik lebih murah dibanding kain batik (tulis), sehingga harga baju bisa dibuat lebih murah :). Oklah, aku coba buat .. dan jadilah katalog baru untuk Fitinline. Untuk katalog kali ini, aku coba buat yang sedikit beda dari sebelumnya. Aku buat yang seperti editorial di majalah Fashion. Tapi selalu saja aku lupa untuk cek modelnya ­čÖü .. mudah-mudahan hasil editing-nya bagus. Dibutuhkan waktu 1 minggu untuk melakukan editing. So tunggu katalog baru Fitinline di pertengahan September 2012!

Untuk batik sendiri, apalagi batik tulis, cukup sulit untuk dibuat dalam skala produksi, karena produksi kainnya lambat ┬ádan motifnya biasanya tidak diproduksi dalam jumlah banyak, kecuali atas permintaan khusus. Di samping itu, kain batik tulis harganya cukup mahal dan saat ini pasarnya hanya di kalangan tertentu. Sekedar sharing, banyak hal yang mempengaruhi harga sebuah kain batik (terutama tulis). Harga kain batik ditentukan oleh jenis kain yang dipakai dan warna yang dibuat. Untuk kain katun, jenis kain ditentukan oleh konstruksi kain dan juga proses pengolahan terhadap kain tersebut. Konstruksi kain ditentukan oleh jumlah benang pakan dan lusi (benang yang melintang dan memanjang), jenis benang (carded, combed) dan ukuran benang (10S – 100S). Sedangkan proses terhadap kain itu ada yang mercerized, sanforized, calenderized. Warna dan pewarnaan juga menentukan. Warna alam lebih mahal dari warna sintetis, bukan hanya karena bibit warnanya yang lebih mahal, tapi juga karena proses pewarnaannya berbeda sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama. Demikian juga semakin banyak warna akan semakin mahal, karena proses pewarnaannya harus dilakukan berulang-ulang. Tidak hanya waktu pengerjaannya yang lebih lama tapi bahan perintang warna yang dibutuhkan lebih banyak. Itu kenapa sulit kalo hanya membandingkan harga batik satu dengan batik lainnya.

Dari segi model baju batik, kalau lihat model-model yang ada di pasaran, hampir tidak ada celah untuk membuat sesuatu yang baru. Demikian juga dalam hal motif, apa saja seperti sudah ada di pasaran, mulai dari motif klasik sampai kontemporer. Di pasar batik, sepertinya saat ini permainannya hanya brand atau harga. Untuk brand, tentu saja pengrajin-pengrajin batik besar dan sudah punya nama bermain di situ. Untuk harga, banyak sekali pemainnya terutama untuk batik printing. Pada umumnya mereka rela mendapatkan margin tipis tapi bisa menjual dengan volume besar. Tak ketinggalan pengrajin besar yang juga ikut bermain, karena mereka sudah bisa mencapai skala produksi sehingga biaya produksinya bisa ditekan, sehingga bisa menjual murah.

Kemarin aku juga sempat mencoba membuat batik tulis dengan motif sendiri. Walaupun ada teman ukm yang mengingatkan:
“Nanti mba pasti akan kecewa, karena orang lain dengan mudah akan meniru motif yang mba buat”
“Kalo banyak yang niru artinya bagus dong. Lagian kalo motif saya banyak stock, kalo ditiru ya bikin lagi yang baru”
**sombong** hehehe. Untuk motif sendiri memang aku punya banyak persediaan, kakakku yang buat. Dalam 1 hari bisa full 1 buku gambar penuh dengan motif. Motif yang dibuat memang motif-motif kontemporer, bukan motif batik seperti pada umumnya, maklum pengetahuan dasar mengenai batik juga nggak ada. Tapi sebenernya batik itu apa sih? apa karena motifnya disebut batik? ternyata tidak demikian. Dari hasil ngobrol dan berdasarkan salah satu referensi, definisi batik adalah proses pewarnaan dengan menggunakan teknik perintang warna (malam). Itu kenapa kalo batik printing tidak bisa disebut batik karena menggunakan teknik pewarnaan yang sama sekali beda. Sedangkan kalo dari sisi motif, batik sudah berkembang luas, tidak hanya motif-motif klasik seperti sidamukti, truntum tapi motif-motif kontemporer seperti lukisan dan motif modern lainnya seperti motif batik hokkaido. So motif apa aja bisa dibuatkan batiknya, asalkan teknik pembuatannya menggunakan perintang warna. Untuk membuat motif sendiri, aku juga sudah coba menggunakan software batik fractal, dengan hasil motif yang di-generate memiliki tingkat keteraturan yang sangat tinggi, tapi malah jadi membosankan ­čÖü **ini menurutku aja**.

Aku coba membuat batik tulis motif sendiri di 3 tempat pengrajin, dan hasilnya semuanya gagal! Tidak ada satupun pengrajin yang bisa membuat motif persis seperti yang aku inginkan, baik dari sisi warna maupun motif. Untuk batik tulis, prosesnya memang rumit. Untuk membuat warna yang persis, karena warna yang tersedia umumnya adalah warna-warna dasar, pengrajin batik harus membuat takaran warna, biasanya ditimbang. Mereka harus mencampur beberapa warna untuk mendapatkan warna sesuai dengan contoh, dan ini membutuhkan percobaan berkali-kali sampai mendapatkan komposisi yang tepat untuk mendapatkan warna yang benar-benar mirip. Belum lagi, dalam proses pengeringan, yang sepenuhnya mengandalkan sinar matahari, warna yang dihasilkan bisa beda dalam satu kondisi dengan kondisi lainnya. Itu kenapa kalo pengrajin diminta membuat warna yang persis, pada umumnya mereka tidak bisa menjanjikan. Untuk membuat motif, mereka juga sepertinya kagok untuk membuat motif yang beda dari yang biasanya mereka buat. Walhasil dari lukisan motif yang aku contohkan, hasilnya benar-benar berbeda-beda di 3 pengrajin itu.
“Mba, kalo saya sih pendekatannya tidak seperti itu”,┬ákata teman yang memang sudah cukup lama bermain di batik.
“Kalau saya datang ke pengrajin, saya lihat apa yang mereka bisa, apa yang mereka punya. Baru saya berimprovisasi dari ┬ásitu.”
Pendekatan yang benar-benar berbeda dari yang aku lakukan. Sepertinya untuk membuat batik ala sendiri, memang akan sulit terwujud kecuali ditangani sendiri.

Lain halnya dengan batik printing, untuk menghasilkan warna dan motif yang diinginkan sangatlah mudah. Dengan bantuan  komputer dan mesin cetak motif, tentu sangat mudah untuk memilih warna yang diinginkan dan motif yang benar-benar persis seperti contoh. Ditunjang dengan jumlah produksi yang dengan mudah dilipatgandakan, bisnis batik printing menjadi sebuah bisnis yang menguntungkan. Begitu kata pemain batik printing.
“Dulu saya juga punya teman seperti mba, fanatik dengan batik tulis. Tapi setelah dihitung-hitung lagi, akhirnya sekarang ┬áteman saya itu dia berpindah ke batik printing, karena lebih menguntungkan”.
Aku sendiri sih belum ada niatan untuk ikutan bermain di batik printing, nggak tau ya, aku masih penasaran dengan batik  tulis ini :). Saat ini aku masih ada 2 proyek batik tulis, yang pertama batik klasik Kebumen dan yang kedua batik kontemporer bersama beberapa anak ISI Yogya. Beberapa teman sudah mulai mengingatkan:
“Jangan terlalu banyak eksperimen! yang penting cari duit dulu!” hehehhe. Itu betul sekali sih, bagaimanapun sebagai ┬ápelaku bisnis harus realistis dan harus mulai konsen dengan masalah cashflow!

Ke depan, fitinline akan bertransformasi, bukan sebagai produsen dan penjual baju biasa, maunya sih .. :). Banyak hal yang masih ingin aku buat di Fitinline, tapi memang lain sekali antara membuat konsep/ide dan bagaimana mewujudkan konsep/ide itu supaya bisa berjalan dengan baik. Tapi sebagai wirausaha, menurutku sangat penting untuk memiliki keyakinan bahwa suatu saat itu akan berhasil, itu yang menjaga semangat kita untuk terus belajar dan berusaha.

It's only fair to share...Email this to someoneShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on Pinterest