Kringggg!!! Alarm penanda jam 12.00 berbunyi!
Kami segera bangun dan bersiap untuk berangkat ke Malang. Menurut perkiraan kami, jika kami melewati jalur yang sama dengan jalur pada saat berangkat, maka paling tidak dibutuhkan waktu 4 jam dari Tosari untuk sampai kota Malang. Kami segera berkemas dan memasukkan seluruh barang bawaan ke dalam mobil. Tak lupa kami berpamitan dengan Pak Yadi yang sudah begitubaik menjadi host kami. Sempat terbayang kengerian jalur yang kemarin kami tempuh untuk sampai ke Tosari, tapi menurutku jalan turun akan jauh lebih mudah daripada jalan naik.

Oke Bismillah … kami berangkat! Pemandangan di kanan kiri jalan benar-benar menyejukkan mata, kebun-kebun sayuran, kebun apel memenuhi sepanjang jalan, kendati pada saat itu hujan dan berkabut. Dan Alhamdulillah, jalur turun dari Tosari ditempuh dengan lancar dan cepat sampai kami tiba di Pasar Nongkojajar. Kami sepakat untuk merubah jalur melalui Purwodadi (bukan Purwosari seperti sebelumnya) karena berdasarkan peta, jalur ini lebih pendek untuk sampai ke kota Malang. Nah, di situlah kami membuat kesalahan yang membawa berkah 🙂 Aku hanya mengingat bahwa ada pertigaan yang merupakan pilihan antara ke Purwosari atau Purwodadi, dan aku memutuskan disitulah kami harus berbelok ke Purwodadi. Padahal untuk menuju Purwodadi seharusnya berbelok di pertigaan di daerah Tutur (saat itu aku tidak juga mengecek ke gMaps).

Jalur Tosari - Malang

Jalur Tosari – Malang

Notes: GMaps akan otomatis menyesuaikan jalur (re-route) ketika kita membuat pilihan jalur lain dari jalur yang direkomendasikan oleh GMaps, sepanjang GMaps menemukan akan rute lain yang bisa dilewati.

Setelah berbelok ke kiri, kami menyusuri jalan yang tidak terlalu lebar dan tidak mulus dan di depan kami terpampang bukit menghijau dipenuhi dengan pepohonan nan rimbun. Wow! Kami mesti masuk ke pegunungan lagi? Aku merasa ada yang salah, tapi pemandu GPS juga tidak memberikan peringatan kesalahan jalur, jadi kami terus melaju. Makin lama jalanan makin sempit, banyak bagian jalan yang rusak dan turun naik dengan semakin curam. Kondisi jalanan juga sangat sepi, hanya sesekali kami bertemu dengan mobil lain atau motor. Tapi selama masih bertemu mobil lain, apalagi mobil yang bertampang mobil kota, artinya ada kehidupan di seberang sama hehehe.

Notes: Aku termasuk yang parno apabila pada saat berkendara di jalan yang sepi, ada motor yang berada di belakang mobilku, karena beberapa kasus perampokan yang pelakunya mengendarai motor. Jadi aku lebih baik berjalan lebih cepat atau aku melambatkan kendaraan di tempat yang cukup ramai supaya mereka mendahului.

GMaps: “Sharp Right!”
Ho?? Kami diarahkan untuk membelok tajam (180 derajat) ke sebuah jalan kecil menuju sebuah desa. Lebar jalan yang sempit, bahkan untuk membelok saja jalanan tidak cukup. Kami harus mundur terlebih dulu untuk bisa masuk ke arah kanan. Aku cukup curiga karena aku melihat mobil lain tetap melaju lurus, tapi okelah kami ikuti saran GMaps. Masuklah kami ke sebuah desa yang jalanannya sangat rusak, beberapa bagian masih jalanan batu dan sepertinya jalan di depan kami terputus. Kami tanya ke penduduk desa dan jalan di depan memang putus. Ufhhh!! Kalaupun tidak terputus aku juga tidak yakin kalo harus menyusuri jalan itu. Akhirnya kami putuskan untuk kembali ke jalan tadi dan mengikuti jalan lurus.

Notes: GMaps kadang memberikan rute jalan yang kondisinya tidak terduga. Kalau di daerah yang kamu belum tahu lebih baik mengikuti jalan yang umum dilalui.

GMaps: “Sharp Left!!
Ciyusss?? Aku melihat jalan di sisi kiri kami hanya selebar 1 meter dan kami harus masuk? NO WAY!! Jadi aku abaikan saja sambil terus mengikuti jalan.

GMaps: “Please Make a U-turn!” …. “Please Make a U-turn!”
Terpikir juga olehku, jangan-jangan kami memang salah jalan, yang artinya kami harus kembali ke titik awal kami berbelok yaitu di Pasar Nongkojajar. Oh Tidaaakkk!!! Kalo keyakinanku mengatakan, kalo pergi ke arah barat pasti akan sampai ke Malang! Apalagi masih ada mobil lain yang melintas, di ujung sana pasti sebuah peradaban *halah!*. Kami tetap melaju mengikuti jalan, tidak ada sign board, tapi itu satu-satunya jalan yang cukup besar. Sampai kemudian kami masuk ke daerah blank spot, tidak ada sinyal dan kami dihadapkan pada percabangan jalan. Nah ya pilih lurus apa ke kanan ya? akhirnya kami sepakat untuk bertanya ke salah seorang penduduk. Si ibu yang kami tanya mengatakan bahwa 2 jalur tersebut menuju arah Malang tapi yang jalan lurus ini lebih cepat. Mendengar kata “lebih cepat” sepertinya cukup menarik untuk dicoba, okay kami coba lurus!! Walaupun aku lihat beberapa mobil memilih belok kanan. Jalanan lurus lumayan sempit dan lebih tidak mulus, sampai kami melewati jalan yang tertutup dengan mobil truk yang terparkir, waduh-waduh, kalo jalan tidak bisa dilewati 2 mobil akan susah juga! Akhirnya aku putuskan untuk memutar balik dan kembali ke titik tadi untuk mengambil arah ke kanan. Oke-oke lebih baik mengikuti jalan yang lebih banyak dilewati mobil kendati lebih panjang! Dan benar saja, perjalanan selanjutnya lancar sampai akhirnya kami menemukan ‘peradaban’!!! Horeee, lega rasa. Aku menepikan mobil dan melihat ke GMaps, wow!! kami hanya 14km ke arah kota Malang! Surprise!! Ternyata yang kami lewati adalah jalan tembus ke arah Jabung! Alhamdulillah …!!

Memasuki kota Malang, kondisi jalan cukup macet terutama di perempatan Blimbing. Aku lihat kembali ke peta dan Ahaaa! kenapa harus lewat jalan utama kalo bisa lewat jalan tembus 🙂 Tujuan kami adalah ke Bakso President, dimana kami bisa mencapainya lewat Jalan Tumenggung Suryo! Kami bersorak riang begitu sampai ke Bakso President! Yeaayy!! We made it! Perkiraan sebelumnya yang butuh waktu 4 jam sampai kota Malang bisa kami singkat menjadi hanya 2 jam saja! Saatnya menikmati Bakso Malang! Bakso president menjadi terkenal mungkin salah satunya karena lokasinya yang unik yang terletak di sisi rel kereta aktif (ya!), jadi harus hati-hati ketika menyebrang dari tempat parkir ke warung bakso tersebut. Pengunjung sangat ramai, parkir penuh, antrian cukup panjang, kursi berebut **hadeh**. Tapi demi bakso president okelah kami ikut mengantri. Ada beberapa pilihan bakso yang bisa dicoba dan tibalah saatnya kami bersantap. Ehmmm sepertinya rasanya tidak seheboh beritanya 🙁 Tapi cukuplah untuk membuat perut kami kenyang.

Bakso President, Malang

Bakso President, Malang

Dari situ, tujuan kami selanjutnya adalah mencari oleh-oleh, ternyata lokasinya juga tidak jauh dari situ, yaitu di sepanjang jalan Tumenggung Suryo! Setelah berbelanja ke beberapa Toko, Ai tetap tidak menemukan Pia yang dicarinya. Cari kemana ya? Sementara hari semakin sore dan target kami hari ini sampai ke Dampit, sebuah kecamatan di Kabupaten Malang. Yah, selamat tinggal deh Pia! kami lanjut ke Dampit! Sepanjang jalan kami berfikir apa ada ya tempat menginap di Dampit? Ai dan Farah sibuk mencari informasi di internet sementara aku tetap melajukan mobil ke arah Dampit. Sampai akhirnya kami sepakat untuk berhenti untuk memastikan apakah ada penginapan di daerah Dampit. Kami tidak bisa menemukan satupun informasi di internet mengenai tempat menginap di Dampit. Dan penduduk yang kami tanya juga tidak tahu. Kebayang kan di kota kecamatan yang kecil mana ada hotel atau tempat menginap. **Errr** Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Malang, dan Ai pun bersorak gembira!! hahaha… .. Pia tunggu kami!!

Rencana kami untuk mencari tempat menginap on the spot ternyata benar-benar payah. Ketika jalan keluar Malang aku sempat melihat ada hotel “Megawati” di sisi kanan jalan, tapi aku abaikan karena aku pikir akan ada banyak sekali hotel/tempat menginap di Malang. Ketika kembali ke Malang pun aku memilih jalan lain, yaitu melalui jalan Raya Kebonsari. Dan aku menjumpai guesthouse yang pertama yaitu Oscar Guesthouse. Tempatnya cukup aneh, tidak seperti guesthouse karena depannya adalah tempat pencucian mobil. Kami tidak masuk ke dalam karena pintu pagar dalam kondisi terkunci. Kami hanya menelpon dari luar dan ternyata hanya tersedia 1 kamar hanya untuk 2 orang! Oke, di Malang mungkin ada 1000 tempat menginap pasti mudah mencarinya! Selain mencari tempat menginap kami juga mencari Pia! Hari mulai gelap hujan mulai turun dengan derasnya, dan kami masih berputar-putar mencari Pia dan hotel! Haduhh hujan turun super derass, disertai angin dan jarak pandang hanya sekitar 10 meter. Yang aneh adalah kami sudah mendapatkan alamat tapi ketika sampai kami tidak menemukan tempatnya, bahkan hotel “Megawati” yang aku lihat sebelumnya ketika dicari tidak ketemu! Benar-benar nightmare! Aku menepikan mobil dan beristirahat, sementara Farah dan Ai sibuk telpon kesana kemari untuk mencari tempat menginap dan semuanya Full!! OMG! Mungkin malam ini kami akan merealisasikan becandaan kami bahwa kami menginap di mushola/masjid atau pom bensin! hahaha nasippp!!

Tips: Pada saat peak session sebaiknya anda melakukan booking tempat menginap/hotel.

Sementara aku pun tidak bisa menghubungi teman-temanku yang ada di Malang untuk meminta bantuan, 2 telponku mati kehabisan baterai, charger mobil yang aku beli tidak bisa men-charge melalui USB, padahal sebelumnya baik-baik saja. Oke deh kami menenangkan diri sejenak dan kami putuskan untuk “mengiba” ke Oscar Guesthouse karena itu satu-satu yang masih ada kamar!! hahaha. Kami kembali ke Oscar Guesthouse. Farah turun dan mengetuk-etuk pintu pagar yang terbuat dari besi tinggi, untungnya ada orang yang mendengar. Entah apa yang dibicarakannya, sepertinya cukup memelas hihihi, sampai kemudian pintu pagar dibuka dan kami dipersilahkan masuk. Sepertinya guesthouse ini masih dalam tahap pembangunan tapi ada 1 kamar yang siap dipakai untuk 2 orang. Akhirnya kami diperbolehkan untuk menempatinya bertiga, walaupun memang hanya ada 1 tempat tidur B-). Alhamdulillah!! Akhirnya kami bisa tidur di tempat tidur!!

Bersambung ke … Trip to The East: Day 4

It's only fair to share...Email this to someoneShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on Pinterest