Hari ini, tanggal 28 Desember 2014, adalah hari ke-4 tur kami. Waktu sudah menunjukan pukul 07.00 dan kami pun segera bersiap untuk berangkat ke tujuan berikutnya. Beruntung kami semalam bisa mendapatkan tempat menginap di Oscar Guesthouse, walaupun tampak luar sederhana tapi tempatnya cukup nyaman dan bersih. Ditambah lagi, si empunya begitu baik melayani kami. Rute kami hari itu cukup jauh yaitu dari Malang menuju Pacitan dan kami akan mampir dulu ke Dampit, tepatnya ke Masjid Tiban, di Desan Turen,  Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. Belum lagi rencana kami untuk bisa menikmati sunset di Pantai di Pacitan. Okay, mari berangkat!

Rute Malang - Pacitan

Rute Malang – Pacitan

Dari kota Malang menuju Dampit jaraknya tidak terlalu jauh, didukung dengan kondisi jalanan yang besar dan mulus, perjalanan bisa ditempuh hanya dalam waktu 30 menit. Kami mampir ke sebuah warung di pinggir jalan untuk sarapan dan kami menemukan makanan khas yaitu Sego Empok! Sego Empok adalah nasi yang terbuat dari beras yang dicampur dengan jagung yang ditumbuk. Sego empok komplit biasanya berisi bermacam lauk dan sayuran, mulai dari tempe yang ditumpuk dan dikepal kemudian digoreng (lupa namanya), ikan asin yang digoreng, urap, sayur nangka, sayur terong bulat (ih lupa juga namanya). Kenyang! 🙂

Sego Empok (sumber: ditainnata.blogspot.com)

Sego Empok (sumber: ditainnata.blogspot.com)

Lokasi Masjid Tiban yang kami tuju ternyata tidak jauh dari situ. Walaupun masih pagi, ternyata pengunjungnya sudah begitu ramai. Tadinya yang kami bayangkan adalah sebuah masjid yang sunyi di sebuah desa, ternyata salah :). Masjid Tiban disebut-sebut sebagai masjib Gaib karena ada mitos yang menyatakan bahwa masjid tersebut hanya dibuat dalam 1 malam. Tentu hal ini tidak benar, saat kami datangpun pembangunan dan perluasan masjid sedang dilakukan. Masjid ini lebih mirip dengan tempat wisata. Jalan masuk ke arah masjid dipenuhi dengan pedagang oleh-oleh khas Malang, mulai dari souvenir sampai camilan. Memasuki area masjid, sudah ada petugas yang mengarahkan kami ke tempat parkir. Subhanalloh masjid ini memang indah, bersih pula! Lokasinya juga sangat asri. Bagian luar masjid dihiasi dengan ornamen yang menyerupai keramik (padahal bukan), dengan kombinasi warna biru dan putih.

Bagian depan Masjid Tiban, Turen, Dampit, Malang

Bagian depan Masjid Tiban, Turen, Dampit, Malang

Memasuki bagian dalam masjid, lorongnya mempunyai nuansa keemasan dan ada sebuah tempat yang mirip selasar dengan ornamen lantai warna-warni. Tapi tempat sholatnya mana ya? Di bagian dalam lantai dasar sisi timur ada mushola yang tidak terlalu luas. Lokasi tempat wudhu putri ada di Lantai bawah tapi sepi sekali dan jalan menuju ke situ cukup gelap. Di situ juga ada juga tempat istirahat untuk putra dan putri, mungkin untuk tempat tinggal para santri. Konsep masjid ini sedikit aneh menurutku, Lantai 1 diisi dengan banyak akuarium, layaknya seaworld, di lantai lainnya ada studio foto. Masjid ini terdiri dari 10 lantai, tapi lagi-lagi kami tidak menjelajah semua lantai, benar-benar traveller pemalas! Dan kami belum menemukan tempat sholat yang sebenarnya, apakah mushola yang ada di lantai bawah itu?

Lorong di dalam Masjid Tiban, Turen, Dampit, Malang

Lorong di dalam Masjid Tiban, Turen, Dampit, Malang

Selasar di dalam Masjid Tiban, Turen, Dampit, Malang

Selasar di dalam Masjid Tiban, Turen, Dampit, Malang

Setelah puas berkeliling dan berfoto kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Rute menuju arah Pacitan cukup straight forward, kami tinggal mengikuti jalan raya ke arah Blitar – Tulungagung – Trenggalek – Ponorogo dan sampai ke Pacitan. Sayang sekali, karena keterbatasan waktu kamu tidak bisa mampir ke setiap kota untuk sekedar menikmati kota atau mencicipi kuliner khasnya. Kami hanya berencana untuk mampir ke Ponorogo pada saat makan siang untuk mencicipi sate Ponorogo. Selebihnya kalau kami bertemu tempat oleh-oleh kami akan mampir.

Perjalanan cukup lancar, kontur jalan cukup landai, kalaupun menanjak tidak terlalu tajam. Aku jadi ingat cerita Pak Yadi tentang perbedaan jalan yang dibangun oleh orang Belanda dengan jalan yang dibangun oleh orang Indonesia. Jalan yang dibangun oleh orang Belanda, pada kontur menanjak tajam akan dibuat memutar sehingga tanjakan tidak tajam, sedangkan jalan yang dibangun oleh orang Indonesia cenderung langsung sehingga banyak tanjakan curam hehehe. Perjalanan cukup lancar, kami berhenti di daerah Trenggalek untuk mengecek kondisi angin ban yang kelihatan kempis. Selanjutnya kami mampir ke warung oleh-oleh khas Trenggalek yang berderetan di selanjang jalan perbatasan menuju Ponorogo.

Waktu sudah menunjukan pukul 14.00 dan kami belum makan siang, sate Ponorogo tunggu kami!!. Memasuki wilayah Ponorogo jalanan mulai menanjak. Berdasarkan Peta, ada jalan tembus yang lebih cepat untuk menuju Pacitan dan kami tidak sadar kalo itu menjauhkan kami dari sate Ponorogo! Hiks! Kami pikir akan dengan mudah menemukan sate Ponorogo di sepanjang wilayah Ponorogo, ternyata kami tidak menemukan satu pun dan kami mulai menjauh ke arah Pacitan. Oke deh, mungkin lain waktu ya!

Jalan dari Ponorogo ke Pacitan sungguh luar biasa! tak henti-hentinya aku berucap Subhanalloh!! Indah sekali. Kontur jalan di pegunungan dengan sisi kanan tebing dan sisi kiri adalah sungai yang masih sangat asri. Jalan lebar dan mulus, namun tidak menurunkan kewaspadaanku karena jalan yang menurun dan berkelok-kelok serta banyak material longsoran di sisi kanan jalan. Setiap kali aku mau berhenti untuk memotret rasanya malah akan membahayakan pengguna jalan lainnya, di samping kondisinya hujan saat itu. Okelah dinikmati saja dalam hati.

Oya, yang salah dalam perjalanan ini adalah asumsi kami bahwa akan mudah menemukan tempat penginapan on the spot, yang nyatanya salah besar karena pada saat itu adalah peak session. Seperti itu juga yang terjadi di Pacitan, walaupun akhirnya kami mendapatkan hotel yang seharusnya pas dengan harapan kami, dekat dengan Pantai! Akhirnya kami sampai juga di Pacitan, masih jam 16.30 waktunya berburu sunset di Pantai! Karena waktunya pendek, kami hanya bisa manjangkau pantai yang paling dekat dengan kota Pacitan yaitu pantai Teleng Ria. Ternyata lokasi tempat menginap kami memang sangat dekat dengan Pantai, bisa jalan kaki. Terbayang pagi hari berjalan di sepanjang pinggir pantai sambil menikmati sunrise! Menyenangkan bukan? Tapi kami cukup kecewa karena kondisi pantai yang cukup kotor, banyak sampah bertebaran dimana-mana 🙁 dan mendung! Tapi memang kalo melihat lokasinya kami tidak mungkin bisa menikmati sunset di pantai itu, karena sisi baratnya tertutup tebing. Namun kami tetap senang, bisa menikmati udara pantai dan tidak lupa berfoto-foto!

Aku di Pantai Teleng Ria, Pacitan

Aku di Pantai Teleng Ria, Pacitan

Saatnya beristirahat di hotel! Kalau tempat lainnya penuh dan tempat itu kosong pasti ada apa-apanya! Dan memang benar, pelayananya mengecewakan, kondisinya juga kurang bersih disamping itu fasilitasnya juga seadanya. Padahal itu adalah hotel yang lokasinya paling premium di pinggir pantai dan harganya juga tidak murah. Tapi ya sudahlah, itu salah kami sendiri karena tidak mempersiapkan semuanya dengan baik, untung masih ada tempat untuk menginap! hahahha.

Bersambung ke .. Trip to The East: Day 5

It's only fair to share...Email this to someoneShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on Pinterest