Jam 02.30 kami sudah siap berangkat. Jeep sudah menunggu di luar, demikian juga Pak Yadi yang siap mengantar kami menuju Bromo. Tetangga kamar kami masih terlelap tidur, menurut informasi Pak Yadi mereka baru akan berangkat jam 04.00. Di sepanjang jalan kami mendapati beberapa rombongan yang juga sudah bersiap untuk berangkat. Menjelang Terminal Wonokitri suasananya sudah sangat ramai, sehingga menimbulkan kemacetan. Luar biasa sekali antusiasme masyarakat untuk melihat matahari terbit di Gunung Bromo. Dan menurut Pak Yadi, hal ini baru terjadi setelah tahun 2000an. Cukup mengerikan juga macet di daerah tanjakan curam seperti itu, tapi sepertinya mereka sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Akhirnya terlihat juga pintu masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru! Setelah membayar retribusi, kami pun melaju. Desa Wonokitri adalah salah satu desa di kecamatan Tosari yang dihuni oleh masyarakat suku Tengger yang semua penduduknya beragama Hindu. Hanya 1-2 orang saja yang beragama non Hindu, itupun hanya tenaga bantuan seperti guru atau dokter/petugas puskesmas. Namun demikian, ini bukan menandakan intoleransi antar agama, karena selama ini masyarakat desa Wonokitri bisa hidup harmoni dengan masyarakat desa lainnya. Tujuan utama kami sebenarnya Puncak Pananjakan 1, katanya di situ kami bisa mendapatkan view terbaik untuk melihat sunrise di Bromo. Tapi Pak Yadi mendapat kabar bahwa kondisi di Pananjakan 1 sudah penuh, akhirnya kami memutuskan untuk menikmati sunrise di Bukit Cinta (atau biasa disebut Pananjakan 2), yang lokasinya sekitar 5 km dari Pananjakan 1. Kenapa disebut bukit cinta? sepertinya tidak ada yang tahu kenapa.

Bukit Cinta

Bukit Cinta

Kami sampai di lokasi sekitar jam 03.30, situasinya sudah sangat ramai, kami beruntung bisa memarkir kendaraan di lokasi yang tidak begitu jauh. Kami lihat sudah banyak yang naik ke atas bukit tapi kami memutuskan untuk mampir ke warung untuk menikmati minuman hangat dan mie rebus! lumayan sebagai pengisi perut. Kami beruntung pada saat kami tiba, hujan sudah reda. Kekurangan lokasi bukit cinta ini adalah tidak ada mushola :(. Untungnya saat itu aku sedang berhalangan, sedangkan Farah dan A memutuskan untuk sholat di mobil. Kami segera naik ke atas bukit setelah diberitahu Pak Yadi bahwa sebentar lagi matahari akan terbit. Walaupun sangat ramai tapi kami masih bisa mendapatkan tempat yang paling depan, mungkin karena kami tidak naik terlalu jauh ke atas bukit. Sangat disayangkan awan menutupi matahari yang perlahan muncul, sehingga kami tidak mendapatkan panorama sunrise yang spektakuler seperti yang kami harapkan. Tapi tak mengapa, kami cukup senang bisa menikmati pagi dan pemandangan yang begitu indah.

Gunung Batok

Sunrise di Bromo tertutup awan

Tips: Akan lebih baik menikmati panorama dari Pananjakan 1, karena dari Bukit Cinta kawah gunung bromo tertutup gunung Batok, mungkin karena lokasi kami yang kurang tinggi. Selain itu di Pananjakan 1 terdapat mushola, jangan pernah lupa sholat ya guys!

Setelah puas menikmati panorama, kami segera melanjutkan perjalanan menuju gunung batok. Pak Yadi orangnya sangat kooperatif, setiap kali kami meminta berhenti untuk berfoto-foto, beliau dengan sabar melayani. Ada spot yang cukup bagus untuk berfoto dengan latar belakang gunung Batok, tapi tidak tahu namanya dan kami bisa berpuas-puas berfoto disitu karena selain kami, hanya ada 2 orang lainnya yang turut berhenti di situ. Kendaraan lain terus meluncur ke arah bawah.

Kami dengan latar belakang gunung Batok, Bromo

Kami dengan latar belakang gunung Batok, Bromo

Lanjut ke gunung Batok, sebuah gunung mungil dengan pahatan di sepanjang sisinya, seperti disisir rapi, nature wonder! subhanalloh! Banyak yang berhenti di situ untuk berfoto-foto tapi menurut Pak Yadi akan ada spot yang lebih bagus untuk berfoto, oke kami ikut saja. Selain menggunakan jeep atau motor ada juga lho yang berjalan kaki, luar biasa ya! Dengan kondisi pasir yang padat karena air hujan semestinya GV ku juga bisa lewat nih 🙂 tapi aku tidak melihat ada mobil lainnya selain jeep-jeep wisata. Kami terus bergerak menuju pasir berbisik dan padang savana. Kami berhenti di Padang Savana untuk berfoto, pemandangannya sangat indah. Hamparan hijaunya sangat menyejukkan mata.

Padang Savana Gunung Bromo

Padang Savana Gunung Bromo

Setelah puas berfoto kami kembali ke Pasir berbisik yaitu ke lokasi Batu singa, konon katanya bentuknya menyerupai singa. Iya sih kalo dilihat dari sudut tertentu dan membayangkan singa hehehe.

Farah dan Ai mengagumi Batu Singa :)

Farah dan Ai mengagumi Batu Singa 🙂

Tempat itu dinamakan Pasir Berbisik karena dulu merupakan lokasi pengambilan gambar untuk Film dengan judul sama, yaitu Pasir Berbisik. Pada saat kemarau dan pasirnya tidak basah, pasir-pasir tersebut akan beterbangan tertiup angin dan gesekan antar pasir menimbulkan bunyi seperti berbisik. Begitu ceritanya. Nah di situ juga spot yang paling bagus untuk pengambilan gambar dengan latar belakang gunung Bromo dan gunung Batok, serasa foto kalender hehehe. Banyak juga lho yang menjadikan lokasi ini sebagai lokasi pemotretan prewedding. Puas berfoto, kami meneruskan perjalanan menuju kawah Bromo. Di sini kiri jalan aku melihat beberapa penanda dan larangan untuk melintasi area itu. Menurut Pak Yadi, di area itu ditanam alat pengukur gempa (seismograf) dan jeep-jeep yang melintasi area itu sangat mengganggu kerja alat tersebut sehingga dapat memberikan data yang tidak benar. Dan walaupun sudah diberikan papan larangan tetap saja banyak jeep-jeep yang melintasi area itu untuk mengambil jalan pintas ke kawah Bromo. Akibatnya pihak terkait menebarkan ranjau paku untuk memberikan efek jera bagi pelanggar aturan. Ada-ada aja ya :).

Pasir Berbisik

Pasir Berbisik

Sampailah kami di lokasi Kawah Bromo, ada 2 tempat memberhentian, kami meminta berhenti di tempat yang paling dekat yaitu setelah Pura. Oya, disitu berdiri Pura Luhur Poten yang merupakan pusat ibadah masyarakat hindu Tengger. Hanya orang beragama Hindu yang boleh memasuki Pura tersebut. Menurut Pak Yadi biasanya spot pertama ini tidak dibuka untuk umum, hanya untuk orang yang akan bersembahyang di Pura. Tapi untungnya saat itu kami bisa berhenti di spot itu. Farah dan Ai sepertinya sudah kelaparan, dan mereka memutuskan untuk makan bakso, sedangkan aku sudah nggak tahan mau ke toilet! Alamakk!! Hanya ada 1 lokasi toilet walaupun ada 4 pintu tapi antriannya sudah mengular, berasa mengantri toilet di Padang Arafah :). Yah mau gimana lagi, terpaksa ikut mengantri. Setengah jam kemudian baru bisa masuk ke toilet. Sementara Farah dan Ai sibuk belanja oleh-oleh. Karena aku sempat trauma dengan tangga, aku putuskan untuk tidak naik ke Kawah, sementara Farah dan Ai akan coba naik ke Kawah dengan menyewa Kuda. Dari tempat ini, sewa kuda hanya 50rb, sedangkan dari spot satunya sewa kuda bisa sampai 150rb. Sambil menunggu mereka kembali, aku duduk di warung sambil menikmati pisang goreng hangat, nyam-nyaamm. Tak berapa lama, mereka muncul dengan kudanya, lho cepat amat?? ternyata mereka hanya sampai tangga, tetapi tidak naik ke atas Kawah Bromo. Hihihi kami benar-benar traveller pemalas B-).

Okelah cukup sudah kami menikmati Bromo dan kami memutuskan untuk kembali ke Guesthouse. Jalan pulang ternyata sangat ramai, kami tertahan di Wonokitri sampai akhirnya Pak Yadi memutuskan untuk melewati jalan lain menuju Tosari. Jalan ini tidak banyak dilewati karena kondisinya yang cukup rusak, belum lagi rawan longsor. Tapi saat itu kondisinya sedang tidak hujan dan kemungkinan jalan tersebut bisa dilewati. Oke mari kami ber-offroad ria! Tak disangka kami dapat bonus perjalanan hehehe. Tidak banyak kendaraan yang melewati daerah itu, tapi yang menakjubkan motor-motor dengan santainya lewati daerah itu, dan pengendaranya bukan laki-laki tapi ibu-ibu dan remaja putri juga! benar-benar nyali tinggi, masih kalah deh aku. Kami melewati kebun-kebun di lereng bukit, pemandangannya sungguh luar biasa, kabut mulai turun disertai hujan rintik-rintik. Sampailah kami di sebuah desa (lupa namanya), dengan kondisi jalan yang sangat buruk .. sepertinya pembangunan kurang menjamah daerah itu. Dan aku baru merasakan bagaimana sebagai penumpang ternyata lebih ngeri daripada sebagai supir. Karena jalan yang sempit, setiap kali rasanya mobil berjalan terlalu ke pinggir seperti mau masuk jurang! Hihihi

Guesthouse Pak Yadi, Tosari, Bromo

Guesthouse Pak Yadi, Tosari, Bromo

Akhirnya kami sampai di guesthouse Pak Yadi. Waktu masih menunjukan pukul 11.00, sebenarnya rencana awal kami ingin langsung melanjutkan perjalana ke Malang tapi rasanya mengantuk juga, bagaimana tidak kami sudah bangun dari pukul 02.00. Dengan kondisi jalan yang berat, sepertinya tidak bagus juga untuk melanjutkan perjalanan. Jadi kami putuskan untuk … tidur!!

Bersambung ke … Trip to The East: Day 3 (Part 2)

It's only fair to share...Email this to someoneShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on Pinterest