Akhirnya aku buat juga model pakaian untuk laki-laki, karena banyak yang menanyakan, yang sebenarnya tidak ada dalam rencanaku sebelumnya. Aku jadi ingat salah satu liputan wirausaha di salah satu tv swasta nasional yang dipandu oleh Rene Haryono. Waktu itu yang diwawancarai adalah seorang pebinis “pemula” yang cukup sukses (“pemula” nya tentu beda dengan aku, karena sebelumnya beliau adalah CEO di sebuah perusahaan retail ecommerce dan lulusan Harvard University (fyuhh … )). Katanya di dalam berbisnis, fleksibilitas sangat penting, jangan terlalu banyak berfikir, kerjakan dan lakukan test pasar… kesalahan-kesalahan kecil itu akan membantumu. Juga biasanya setelah 1 bulan bisnis berjalan, rencana bisnis yang sebelum sudah disusun rapi sebelumnya, kebanyakan sudah tidak bisa dipakai lagi (setelah melihat reaksi pasar). Bagaimana dengan fitinline? .. secara konsep bisnis aku masih tetap berkeyakinan bahwa konsep baru yang aku tawarkan adalah sesuatu yang bisa bekerja … masalahnya adalah how to make it works :). Ya .. kita lihat saja perkembangannya.

Hari ini aku melakukan launching katalog fitinline untuk model pakaian laki-laki yang jujur saja selama ini aku belum pernah membuatnya. Dengan mengumpulkan berbagai referensi, aku mulai bereksperimen. Mulai dari pembuatan pola dasar yang umumnya tiap buku beda-beda sampai mencari referensi model pakaian laki-laki yang umumnya gitu-gitu aja .. kemeja, that’s it. Apalagi model untuk kemeja batik umumnya ya kemeja biasa, tetapi lebih banyak main di motif. Berhubung aku tidak punya motif batik sendiri, aku membuat model yang agak lain dari umumnya kemeja batik, mulai dari potongan sampai cara menjahitnya. untuk potongan aku bereksperimen dengan membuat potongan yang biasanya untuk kaos dan jacket aku coba buat “kemeja” batiknya. Untuk cara menjahit, aku adopsi dari cara menjahit model kemeja gaul, seperti Cardigan, RedCliff .. aku sampai beli kemeja laki-laki lho buat aku jadiin sample. Berhubung aku juga nggak punya manekin laki-laki, aku minta karyawan-karyawanku yang laki-laki jadi media percobaan B-) .. keuntungannya dengan menggunakan “manekin hidup” mereka bisa berkomentar nyaman tidaknya sebuah baju dipakai, karena dari pengalaman sebelumnya baju yang kelihatannya pas dipakai dan jatuhnya benar-benar rapi ternyata ketika dipakai tidak nyaman. Setelah cukup yakin, aku memulai proses produksi untuk pembuatan sample model dengan ukuran standar M, karena tadiya aku pikir ukuran M sudah cukup besar. Judul untuk katalog kali ini: Good MANner .. what a good man thinks about a good fashion 🙂 really?? coba ditengok aja di www.fitinline.com 😀

Ternyata aku salah mengenai pemilihan ukuran. Aku lupa kalau foto model laki-laki itu umumnya berbadan besar, jadiya model yang aku incar (konon katanya model ini favoritnya para designer) tidak muat menggunakan bajuku 🙁 Aku terpaksa mencari model laki-laki yang lebih junior (yang pas ukuran M). Hmm .. resikonya aku bisa salah menyampaikan pesan ke target pasar, karena sebenernya fitinline ditargetkan untuk kalangan dewasa muda, bukan abg. Tapi daripada aku mesti ulang lagi pembuatan sample-nya aku coba dengan model yang ditawarkan oleh sebuah modelling agency, seorang coverboy di majalah anak muda Yogya. Aku bertemu langsung dengan sang model ketika hari pemotretan .. ya ampyuunnnn … masih imut bianggetttt .. 😀 gimana nggak imut? wong fotomodelnya baru lulus smp kemaren B-) Aku coba jelaskan bahwa yang aku butuhkan adalah gaya formal, dewasa, seperti orang kantoran 😀 .. hehehe gimana dia bisa ngerti ya **tepokjidat**. Ketika aku ceritakan ini ke temenku, dia berkomentar “nanti yang memakai bajumu nggak merasa ‘manly’ tapi merasa imut” hahahha gak kebanyang kalo laki-laki merasa imut … Tapi alhamdulillah, pemotretan berjalan lancar, hanya itu saja sih yang jadi ganjalan, profilnya terlalu muda untuk baju fitinline .. walaupun ternyata semua baju fitinline yang dia pakai pas banget sama dia, baik gaya formal maupun kasual, so baju fitinline bisa dipakai oleh semua golongan usia :), mulai dari abg sampai opa-opa B-). Pada saat pemotretan pun beberapa orang sudah tertarik untuk membelinya, sayangnya fitinline bukan product yang ready to wear. Alhamdulillah, belum sampai katalog-nya terpasang, sudah ada yang order 🙂

Lagi-lagi mengenai aturan main di fitinline. Walaupun berbagai informasi (gambar, penjelasan) sudah aku taruh di website tapi untuk membuat orang paham dengan konsep baru dalam berbelanja baju ternyata tidak mudah. Banyak yang bilang, sosialisasinya kurang, marketing-nya kurang berjalan dengan baik. Memperkenalkan konsep baru dan membangun brand awereness memang tidak mudah, apalagi background-ku sama sekali tidak mendukung dengan apa yang kulakukan sekarang (baca: fashion design) dan juga jaringan bisnisnya belum terbangun, benar-benar aku mulai dari 0. Kalau kata Tantri Abeng, paling mudah memulai bisnis kalau jaringannya sudah terbangun. Kalau belum? .. bisa sih tapi sulit 🙂

Masih perlu pembenahan di sana sini sih, termasuk proses/fitur yang sepertinya beberapa perlu disederhanakan. Apalagi karena aku berjualan “premium product” yang mana konsumennya umumnya tidak mau repot :). Juga banyak permintaan jenis product dan layanan lain, seperti submit your own design (baik untuk design pakaian maupun motif batik), walaupun layanan ini akan cukup mahal karena kompleksitasnya tapi nggak ada salahnya dicoba untuk dibuat, biar makin lengkap layanannya 🙂

ps:kalau judulnya kurang match sama content-nya, mohon dimaafkan 😀

It's only fair to share...Email this to someoneShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on Pinterest