Udah lama nggak nge-blog tiba-tiba muncul dengan istilah Pivot ..
“Aku taunya sih pivot table yang di Excel ..”
“Bisnisnya udah mulai bagus kok malah Pivot?”
Pivot itu apaan sih?”

Pivot (which generally refers to a shift in strategy) describes the tortured path that most start-ups go through to find the right customer, value proposition, and positioning. Pivot adalah ketrampilan wajib yang harus dimiliki oleh seorang entrepreneur. Seorang entrepreneur harus tahu kapan waktunya bertahan dan kapan waktunya harus mengubah haluan.

Perjalanan Fitinline 1,5 tahun ini mungkin masih terlalu dini untuk bisa disimpulkan kesuksesan maupun kegagalannya, tapi bagiku dari tanda-tanda yang ada memberiku sinyal yang kuat untuk melakukan Pivot. Di banyak kasus, Pivot dilakukan dengan merombak total bisnisnya tapi yang kulakukan sebenarnya hanya mengubah arah fokus bisnis dari yang sebelumnya bisnis tradisional (atau istilahnya startup UKM) ke bisnis digital (startup digital). Namun demikian, bisnis tradisional tidak kutinggalkan karena sudah adanya basis customer. Trus kenapa harus pivot? karena model bisnis yang seperti sekarang tidak scalable.

Sebagai seorang yang belajar ilmu bisnis seharusnya aku tahu dari awal mengenai hal ini, tapi **seperti biasa** aku sedemikian optimisnya ingin mencoba dan mengatakan “aku bisa mengatasi semuanya”. Sampai kemudian aku terbentur dengan banyak hal yang tidak bisa kubayangkan sebelumnya. Ketiadaan ilmu yang memadai mengenai domain bisnis yang dijalankan sebenarnya merupakan sumber utama masalahnya. Jadi benar kalau para ahli menyarankan untuk memilih bisnis yang kita expert di dalamnya atau punya banyak uang yang bisa digunakan untuk mengumpulkan para expertise. Dan aku tidak mempunyai keduanya. Walaupun demikian, dalam jangka waktu 1,5 thn itu aku bisa bertahan dengan “a lot of pain” (tapi nggak pake nangis-nangis lho ya 🙂 ), sampai kemudian aku memutuskan untuk tidak mau melakukannya dengan cara seperti itu.

Pencapaian Fitinline bagiku sangat lambat, walaupun beberapa prestasi diraih namun secara bisnis aku merasa jalan di tempat. Meningkatnya popularitas Fitinline (dilihat dari meningkatnya traffic, jumlah member dan jumlah basis customer), sulit diimbangi dengan kualitas delivery dan logistic yang memadai. Sulitnya mencari SDM untuk produksi ditambah tidak terbangunnya supply chain yang efektif, benar-benar menguras waktu yang seharusnya kufokuskan lebih ke pengembangan bisnis bukan produksi. Layanan yang sifatnya terlalu personal juga sulit untuk dilipatgandakan karena memerlukan SDM yang sangat banyak.

Perubahan dari model promosi offline, sebenarnya sudah aku lakukan dari yang sebelumnya dalam tahun pertama aku banyak melakukan pameran (4x) kemudian aku memutuskan untuk beralih ke sistem sponsorship yang aku rasa lebih targetted. Pameran yang terakhir di Batam, benar-benar pengalaman luar biasa bagiku, menyadarkanku bahwa cara itu tidak bekerja untukku. Hmm bisa jadi aku terjebak lagi dengan pola pikir “too fast to jump into conclusion” tapi aku rasa tidak, karena dari hasil evaluasi, aku bisa paham apa yang bekerja dengan baik dan apa yang tidak. Tentu tidak tepat kalau melakukan hal yang tidak bekerja dengan baik secara terus menerus. Ada orang yang berhasil dengan tetep konsisten dengan cara seperti itu, ya bisa juga, yang paling penting menurutku adalah keyakinan kita terhadap cara yang dilakukan. Jika tidak yakin dengan cara itu, lebih baik tinggalkan dan cari cara yang lebih menyakinkan. Kenapa sepertinya terburu-buru berkesimpulan? Karena manusia mempunyai keterbatasan waktu, energi, modal sehingga kita harus bijak memutuskan apa yang terbaik, karena tidak semuanya bisa dilakukan.

Balik lagi ke Pivot, seperti apa Fitinline ke depannya? Mungkin karena aku orang IT, aku lebih menemukan passion-ku di situ. Selama 1 tahun aku coba untuk beralih tapi aku tetap tidak menemukan passion ku disitu. Memang aku suka mengerjakan banyak hal baru, dan mengerjakannya dengan baik, tapi akan sangat berbeda jika kita mengerjakan sesuatu dengan passion. Aku memutuskan untuk mengalihkan fokus bisnis Fitinline lebih ke portal dan digital content. Bisa jadi aku mengulang lagi kejadian sebelumnya dengan men-deliver produk dan layanan tanpa melakukan riset pasar yang cukup. Tapi di dunia bisnis, bisa saja kita melakukan sebaliknya. Dan aku cukup optimis dengan arah baru ini (sebagai catatan: aku orangnya selalu super optimis :), kalo nggak optimis nggak aku lalukan). Banyak orang yang bilang Fail Fast, Success Faster. Walaupun aku bukan termasuk yang setuju dengan istilah ‘Fail‘ di sini. ‘Fail‘ itu jika sudah tidak ada yang bisa dilakukan, a dead-end. Sedangkan dalam bisnis, percobaan yang ‘gagal’ akan menghasilkan data yang bisa dijadikan acuan untuk melakukan sesuatu dengan lebih baik lagi. Percobaan yang berhasil akan menghasilkan discovery. Membaca daftar yang ada di http://magud.tumblr.com/ (magud=masuk gudang, berisi daftar website lokal yang mati suri), membuatku tersenyum sendiri, bukan untuk mencari justifikasi “heii .. orang-orang hebat itu aja bisa gagal kok”, tapi mengingatkanku bahwa membangun sebuah bisnis memang membutuhkan perjuangan dan juga .. luck!

Banyak juga yang mengingatkanku mengenai rentannya sebuah produk digital karena mudahnya di-copy, tapi bagiku melakukan sesuatu harus selalu disertai aspek hubungan vertikal. Ilmu yang bermanfaat adalah pahala yang tidak pernah terputus. Kalau aku tidak mendapatkan hasilnya di dunia, semoga akan mendapatkan balasannya di akhirat kelak (Aamiin). Jadi aku merasa tidak perlu khawatir, walaupun usaha pengamanan juga dilakukan dengan optimal.

Ada banyak permintaan ke Fitinline yang tidak bisa tertangani dengan baik, salah satunya adalah permintaan berbagai jenis kain. Banyaknya artikel Fitinline yang membahas tentang kain, membuat orang menyangka Fitinline adalah toko segala jenis kain. Kita tahu apa yang paling banyak dicari orang saat ini, tapi kita tidak bisa memenuhinya. Menyedihkan bukan? Memang benar pendapat yang mengatakan bahwa siapa yang menguasai jalur logistik, dia yang akan menang. Sayangnya kita belum mempunyai knowledge di situ, sama halnya dengan knowledge di industri fashion. Butuh waktu yang panjang untuk bisa paham mengenai industri ini. Jadi daripada aku memaksakan diri, lebih baik aku menyediakan waktu yang lebih panjang untuk belajar lagi sambil mengerjakan apa yang menjadi kekuatanku saat ini. Kadang terpikir juga, apakah aku memang belum mempunyai kapabilitas untuk membawa Fitinline ke level yang lebih tinggi? Berkaca dari kasus penggantian CEO di Kaskus, walaupun penggantian CEO adalah hal biasa, tapi ada aroma bahwa 2 pendirinya dianggap tidak mampu membawa Kaskus ke level yang lebih tinggi. Tapi hei Fitinline baru jalan 1,5 tahun, give me a chance 🙂 .. Fitinline adalah saranaku untuk belajar dan menempa diri.

Sebagai seorang yang keras kepala, aku memang perlu membenturkan egoku dengan banyak hal supaya aku bisa belajar. Banyaknya hal yang di luar kontrol kita, menjadikan kita lebih sabar dan pasrah kepada-Nya, menjadikan kita manusia yang lebih tertata secara emosi. Aku tidak pernah menyesal terhadap apa yang sudah kulakukan, sebodoh atau sekonyol apapun itu. Dan aku merasa lebih tangguh menghadapi semua masalah, cukup dengan mantra ini:

Ya Allah, semua masalah yang datang padaku adalah atas kehendak-Mu
Dan Engkaulah maha pemberi solusi
Aku ikhlas menjalani apapun yang Engkau putuskan untukku saat ini
Dan aku berserah diri sepenuhnya kepada-Mu

www.fitinline.com

It's only fair to share...Email this to someoneShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on Pinterest