Sembilan bulan sudah aku menjalankan bisnis ini dan rasanya progress-nya sangat lambat dan belum banyak kemajuan yang berarti. Tapi entah kenapa aku masih merasa tenang dan bersemangat, walaupun dihadapkan pada kondisi yang sulit. Entah ini wujud dari kematangan emosi atau sebuah ke-dableg-anΒ  … bedanya tipis B-). Yang pasti masih banyak ide yang ingin aku wujudkan dalam bisnis ini. Dan aku merasa bahwa apa yang aku lakukan sekarang akan menuju ‘sesuatu’ B-).

Bermain di bisnis fashion ternyata luar biasa! Apalagi kalau kita bermain sebagai produsen. Akan ada banyak sekali variasi product mulai dari model, selera, warna, motif yang sulit sekali dibuat generalisasinya, kecuali kalau kita hanya mengikuti trend. Mungkin bukan pilihan yang cerdas untuk menjadi produsen, di samping knowledge-ku di bidang fashion juga sangat minim, tapi aku punya idealisme sendiri mengenai product atau layanan yang aku tawarkan ke konsumen. Belum lagi pilihan segment pasar yang dituju. Low-end? Middle-to-low? Middle-up? Premium? Semuanya punya kekhasan sendiri dan penanganan masing-masing. Sebenarnya menurut riset, segment pasar fashion yang paling potensial di Indonesia adalah segment Low-end, tapi aku memang tidak memilih bermain di segment itu, Fitinline bermain di segment middle-up. Di segment middle-up, kepercayaan konsumen terhadap produk sangat penting, karena tentu saja konsumen berharap akan mendapatkan produk yang sesuai dengan nilai uang yang dikeluarkan. Peran brand di sini sangat penting, sedangkan Fitinline baru dalam tahap pembangunan brand.

Bermain di bisnis Batik? … penuh sesak!! Banyak sekali pemainnya, di samping juga banyaknya produk tekstil bermotif batik yang membanjiri pasar dengan harga murah. Jika tidak punya ciri khas sendiri rasanya akan sulit untuk bisa exist di pasaran. Dalam hal ini Fitinline juga belum mempunyai product batik yang khas, dalam bentuk kain maupun product olahannya. Kesulitannya dengan batik (tulis terutama) adalah mahalnya bahan baku dan kesulitan untuk membuat massive product. Sedangkan customize product masih mengalami kendala dari sisi penerimaan konsumen terdapat sifat layanan yang ditawarkan. Kebanyakan masih meragukan apakah layanan tersebut bisa berjalan dnegan baik. Pertanyaan yang sering muncul: Jahit online memang bisa? bagaimana cara mengukurnya? bagaimana fitting-nya? Walaupun sebagian besar konsumen yang sudah mencoba layanan kami, melakukan repeating order, sebuah pertanda baik. Tapi apakah pesan ini tersampaikan dengan baik ke pasar yang lebih luas? Di samping itu biasanya bisnis yang sifatnya personalized/custom monitizing-nya akan lebih kecil dibanding yang sifatnya massive product.

Product ready-to-wear Fitinline yang pertama dalam bentuk dress lurik sebenarnya mendapat sambutan yang cukup baik. Empat tempat tertarik dengan produk Fitinline karena memiliki produk lurik yang mereka anggap masih unik di pasar yang dipenuhi baju batik. Penerimaan konsumen juga sebenarnya cukup baik terbukti dengan penjualan di empat gerai tersebut walaupun volume nya masih kecil. Rasanya menyenangkan sekali ketika ada customer menceritakan pengalamannya mengunjungi gerai dan membeli product Fitinline :). Namun lini ready-to-wear, masih terkendala dengan masalah ukuran dan harga (untuk Yogyakarta). Product ready-to-wear lainnya dalam bentuk kaos, walaupun laku tapi pergerakannya tidak secepat pemain lain dalam menjual produknya. Namun dari pengalaman ini, aku mendapatkan banyak masukan mengenai bagaimana cara memahami kemauan pasar, memahami pola ‘persaingan’, belajar bagaimana orang lain berbisnis. Walaupun aku akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan bermain di bisnis kaos, karena pemainnya sudah terlalu banyak dan aku ingin fokus di Lurik. Kenapa Lurik? karena pemain di situ masih sedikit walaupun permintaan pasar untuk saat ini belum sebesar batik. Namun menurutku pasarnya masih bisa dikembangkan tergantung dari kreatifitas kita dalam mengolah produk Lurik, dengan melakukan inovasi baik produk mentah maupun olahannya. Baru-baru ini juga ada tawaran untuk pameran dengan membawa product lurik. So, aku rasa ini sebuah pertanda yang bagus untuk fokus di Lurik. Untuk batik sendiri tetap berjalan dengan menjalin kerjasama dengan beberapa pengrajin batik. Walaupun tidak mudah juga mengajak pengrajin untuk berjualan di “pasarku” (notabene-nya mereka menitipkan barang bukan dropshipping) sedangkan pasarku sendiri masih sepi. Ibarat mengajak orang untuk berjualan di pasar yang sepi .. hmm siapa yang akan tertarik. Tapi ini ibarat ayam dan telur, pasarnya dulu yang ramai atau penjualannya dulu yang ramai.

Saat ini yang harus kulakukan adalah bertahan! Setiap kali orang mengingatkan aku terhadap yang kulakukan, selalu aku bilang bahwa aku masih yakin dengan yang aku lakukan, perjuangku belum selesai :). Berbisnis itu ibaratnya harus punya 1000 rencana, kalo rencana pertama tidak berhasil, coba lagi rencana alternatif kedua sampai seribu. Mungkin memang begitu caranya orang berbisnis, harus mempunyai tekad yang kuat, tanpa itu mungkin akan mudah untuk frustasi karena jalan berbisnis tidak pernah mulus (paling tidak yang kualami). Dan di atas itu semua dibutuhkan keyakinan kuat bahwa pertolongan Allah pasti akan datang pada hamba-Nya yang terus berusaha. Ntah itu bentuknya keberhasilan ataupun kegagalan sekalipun. Walaupun tentu saja aku sangat tidak berharap akan kegagalan. Pernah suatu saat aku merasa berkecil hati saat membaca buku “I am a fashion designer”. Lho kok? Di halaman belakang sampul buku disebutkan bahwa buku itu berisi ‘perjuangan’ seorang fashion designer dalam membangun usahanya, yang kubayangkan adalah ‘from nothing to something’. Ternyata si pengarang buku tersebut adalah anak seorang pemilik usaha fashion yang terkenal di Indonesia yang dipenuhi dengan berbagai fasilitas dari orang tuanya. Hmm aku merasa tertipu dan buku itu menjadi sangat tidak menarik dan aku biarkan saja tanpa membacanya. Tapi yang ada semalaman aku tidak bisa tidur. Kenapa aku mesti merasa ‘iri’ dan berkecil hati?? Bukankah aku mempunyai pelindung yang Maha dari segala Maha, melebihi apapun yang ada di dunia ini! Allah SWT! Dari manapun pasti ada hal yang bisa aku pelajari .. sampai akhirnya aku tidak sabar untuk menyelesaikan buku itu dan membacanya sampai pagi :).

Masih banyak pembenahan yang harus dilakukan dari sisi product, bagaimana membuat sebuah Killer Product. Kualitas product bukan hanya didapatkan dari pemilihan material, proses pengerjaan, desain tapi juga dari sisi keselarasan terhadap keinginan pasar. Karena definisi dari kualitas sekarang sudah bergeser lebih ke customer oriented. Product yang berkualitas adalah product yang bisa diterima oleh pasar. Untuk design sendiri aku masih perlu banyak belajar. Pada katalog yang terakhir aku mempekerjakan seorang designer tapi ternyata sulit untuk menyamakan ‘taste’, walaupun aku juga sering terjebak dengan personal preference, dimana pilihanku sebenarnya tidak merepresentasikan pilihan pasar. Namun belajar dari katalog terakhir yang kurang berhasil dibanding dengan katalog sebelumnya yang sepenuhnya aku design sendiri, aku malah jadi lebih percaya diri bahwa akupun bisa ‘act as a fashion designer’, walaupun keahlian itu masih harus terus diasah. Untuk menciptakan karya yang otentik yang bisa diterima oleh pasar memang tidak mudah. Sekarang aku banyak membandingkan apa yang aku buat, apa yang ada di pasaran, apa yang orang lain buat dan memang masih banyak yang perlu diperbaiki, karena sebuah product fashion itu bukan hanya masalah cutting, model, kain batik/lurik tapi kolaborasi semua unsur fashion termasuk warna, ornamen, tekstur dan motif. Saat ini aku sedang memproduksi motif lurik sendiri dengan material yang lebih halus (karena sebelumnya ada beberapa komentar kalau lurik yang dipakai masih terlalu tebal), dan dengan kombinasi warna-warna pastel yang lebih modern. Mendesain motif lurik ternyata tidak semudah yang dibayangkan, bukan hanya membuat lajur-lajur warna, tapi juga komposisi warna dan rasio lebar warna sangat berpengaruh terhadap finished product. Belum lagi nanti hasilnya tidak bisa 100% sama dengan warna hasil desain komputer. Variasi product juga sedang dalam penggodokan, nantinya yang dijual tidak hanya baju. Dan seperti biasa, aku masih teguh dengan keyakinan bahwa aku bisa membuat product bagus dan bisa menjualnya πŸ™‚

Dari sisi marketing, sebenarnya beberapa orang sudah membuka jalur distribusi/penjualan, tapi saat ini product Fitinline sendiri masih sulit dijual. Bagaimana tidak, kecuali yang ada di gerai semua product dalam bentuk custom (bukan product jadi). Selain konsepnya masih sulit diterima pasar, pada umumnya orang lebih suka diberikan gambaran product jadinya. Misalnya ketika pelanggan dihadapkan dengan beberapa pilihan kain, kebanyakan akan bertanya “nanti jadinya kayak apa ya?”. Diperlukan kemampuan persuatif untuk menyakinkan calon pembeli bahwa apapun kainnya hasilnya selalu bagus atau bagus sekali B-). Nah Kemampuan salesku juga masih perlu diasah terus menerus … sekarang aku mulai menikmatinya, apalagi sampai bisa menyakinkan orang rasanya menyenangkan sekali. Dulu salah satu mentor marketing bilang bahwa hanya orang-orang pemalas yang bilang kalau sales itu susah. Berapa jumlah lead yang kamu proses dalam sehari? 100? 1000? .. Jangankan 100, aku lebih suka duduk manis dan membayar orang lain untuk melakukannya. Sifat malas itu yang kadang membelengguku untuk mencoba hal di luar kenyamananku. Sales juga bisa dilakukan dengan cara mempromosikan brand. Karena sudah ‘terlanjur’ mentasbihkan diri menjadi designer, sepertinya keikutsertaan dalam sebuah Fashion Show adalah sebuah keharusan. Rencananya akan Fitinline akan melakukan fashion show di bulan Juli 2013. Oya 1 lagi, personal branding! Aku adalah representasi dari produkku, tampaknya memang harus banyak berbenah B-)

Dari sisi pengenalan product tampaknya juga harus dilakukan dengan cara yang lebih smart. Cara-cara seperti yang dilakukan ModCloth dengan melibatkan komunitas bisa menjadi acuan yang bagus. Fitinline saat ini mempunyai 8000+ fans di Facebook dan 600+ Fitinliners yang belum tergarap dengan baik. Untuk menghire seorang community manager tentu tidak murah, sebagai pebisnis pemula dengan budget yang terbatas sepertinya memang harus selalu siap untuk ganti-ganti topi :D. Kendala terbesarnya mungkin karena aku bukan tipe orang yang supel, mudah bergaul, bukan orang yang terbiasa berkomunikasi. Bisakah? Semua bisa dipelajari, mengenai hasilnya nanti akan ketahuan setelah diusahakan πŸ™‚

Dari sisi inovasi product, sebenarnya Fitinline sudah menyiapkan product baru yang lebih massive. Tapi apakah product ini bisa diterima pasar? siapa target konsumennya? bagaimana caranya menjangkau pasar itu? seberapa besar demand-nya? Product ini juga membutuhkan investasi software yang cukup mahal, apakah sebanding dengan ROI nya? ataukah ini akan menenggelamkan Fitinline lebih cepat? Yang pasti saat ini belum satupun di Indonesia yang mencoba menjual product semacam ini, bisa jadi karena demand-nya belum ada.

Dari sisi website pembenahan sedang kami lakukan, baik dari sisi tampilan maupun alur proses. Beberapa orang memberikan tanggapan positif terhadap draft desain website baru Fitinline. Dari sisi interaksi antara komponen maupun data juga lebih tertata, dari sisi alur proses lebih memudahkan user, misalnya dengan memberikan fasilitas shop as a guest (selama ini banyak orang yang menghindar untuk mendaftar, bahkan sampai membatalkan niat untuk melakukan pembelian). Dari sisi fitur, website baru Fitinline kaya akan fitur. Dari sisi SEO, dibuat lebih friendly terhadap search engine disamping terus melakukan optimasi dari sisi on page maupun off page.

Jadi, nantikan product-product baru dan wajah baru Fitinline di bulan Maret 2013!

Kesuksesan hanya bisa diraih jika rasa ingin suksesmu mengalahkan rasa takutmu akan kegagalan.
www.fitinline.com

It's only fair to share...Email this to someoneShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on Pinterest