Apa hubungannya Fitinline dengan motor klasik?

Bermula dari forward-an info dari teman kalau di Jogja akan diadakan acara Jogja International Classic Bike Show, memberiku inspirasi untuk turut serta di acara tersebut. Ini pertama kalinya aku akan mencoba penjualan secara langsung, walaupun sebenarnya penjualan secara offline juga sudah mulai jalan, walaupun volumenya masih sangat sedikit. Awalnya memang aku hanya ingin melakukan penjualan secara online, tetapi banyak yang memberi saran kalau model bisnis dengan produk seperti ini, baik penjualan online maupun offline sebaiknya dijalankan secara paralel, bahkan ada yang bilang itu adalah sebuah keharusan. Dengan brand yang benar-benar baru, dengan harga produk yang cukup mahal, rasanya memang sulit untuk mendapatkan kepercayaan pasar dengan mudah. Selama ini penjualan secara online bisa berjalan, walaupun volumenya juga masih sedikit, dengan melakukan personal approach. Tentu butuh effort yang besar, karena kebanyakan keberhasilan penjualan produk riil tergantung dari volume, berbeda dengan jasa.

Yang dimaksud dengan penjualan secara offline di sini adalah adanya pertemuan langsung antara penjual dan pembeli. Sepertinya, di antara komponen 4P-nya Marketing Mix, komponen Place (tempat) menjadi sangat penting. Dari ‘survey’ ku ke beberapa tempat yang sesuai dengan target pasarku, sepertinya **bagiku** kurang menjanjikan. Misalnya di sebuah pusat perbelanjaan yang high class di Jogja, aku lihat produk-produk fashion bejibun, sementara pengunjung (dan pembeli) bisa dibilang tidak rame. Sepertinya akan lebih high cost, low return. Tapi nggak tau juga ya, buktinya masih banyak produsen-produsen yang memajang barang dagangannya di situ. Aku juga sempat berkunjung ke rumah produksi salah seorang desaigner di Jogja. Dia memulai usahanya dari tahun 2004 dan sekarang dia sudah punya tempat usahanya sendiri yang cukup besar, walupun lokasinya di daerah yang tidak rame. Menurutnya, pada umumnya orang-orang di Jogja tidak akan mau membelanjakan uangnya untuk produk yang mahal, karena produk-produk murah sudah membanjiri pasar. Yang dia lakukan justru menjual produk-produknya ke luar Jogja (luar jawa), karena kebanyakan dari mereka (paling tidak yang dia temui), lebih bisa menghargai sebuah produk. Mereka mau membayar berapapun asalkan sudah suka dengan produknya. So, untuk sementara aku pause dulu ide ini, walaupun orang salesku sangat exciting dengan ide membuka butik. Karena resource-ku juga terbatas, aku fokus dulu untuk acara Jogja International Classic Bike Show 2012.

Dengan informasi yang minim, aku mulai mencari-cari kontak dengan penyelenggaranya. Akhirnya ketemu juga informasi kontak dengan beberapa orang MAC (Motor Antique Club). Pertama aku kontak, informasinya semua stan sudah sold out, maklum aku juga taunya telat, eh tapi coba aja kontak yang lainnya 🙂 Akhirnya dapat juga stan di acara tersebut, walupun sebenarnya produkku kurang nyambung. Di acara ini nantinya yang akan dipamerkan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan motor antik maupun motor, dan menurut panitia banyak produsen baju distro yang ingin masuk tapi tidak diperbolehkan. Mereka memperbolehkan fitinline, karena mereka kategorikan sebagai oleh-oleh khas Yogya 🙂 Ok, no prob, yang penting bisa jualan, lihat reaksi pasar, memperkenalkan produk langsung ke pasar. Kalau dari agenda acara mereka ke depan, mereka cukup punya banyak acara, setidaknya sampai dengan Oktober 2012 mereka punya 4 acara yang cukup besar, tidak hanya di Jogja, tapi di Bandung dan Solo. Di acara tersebut akan banyak berkumpul orang-orang dari HDCI, IMI. Sepertinya ini jalur yang cukup bagus untuk melakukan penjualan langsung. Tidak ada salahnya untuk dicoba 🙂

Ini pertama kalinya aku ikut pameran seperti ini, bahkan di pekerjaan-perkerjaanku sebelumnya aku juga belum pernah terlibat dalam suatu event pameran. Yang pasti aku nggak punya orang untuk mempersiapkan semua ini. Karena aku nggak mau juga asal-asalan, maklum ini kan sama aja dengan memperkenalkan brand Fitinline, aku mulai browsing beberapa interior design untuk stand pameran. Yang pasti mahal dan untuk yang standar sepertinya kurang sesuai dengan yang aku bayangkan untuk stand Fitinline. Mulai deh aku berkreasi sendiri, mulai dari merancang peralatan display, tata letak, sampai lampu. Wah tapi bingung juga pas implementasinya, kalau cuma gambar-gambar aja sih bisa beres. Akhirnya aku ketemu juga dengan orang yang bisa membantuku (mudah2an sih, secara aku kenal sama mereka juga baru seminggu 🙂 ) mulai dari membuat beberapa furniture untuk display sampai dengan pemasangannya nanti di lapangan. Mudah-mudahan nanti sesuai dengan rencana, kalo enggak? resepnya cuma 1, jangan panik! 🙂 Karena aku termasuk orang yang idealis (kadang-kadang keterlaluan 🙁 ), sampai kap lampu pun aku buat sendiri, tentu dengan bantuan pengrajin. Setelah berkeliling ke daerah Gamplong aku ketemu orang yang bisa membantuku membuat kap lampu sesuai yang aku inginkan. Oya, mengenai daerah Gamplong, itu adalah daerah sentra pengrajin anyaman lidi dan serat alam. Di Yogyakarta banyak sekali tersebar sentra industri kecil kerajinan seperti ini. Melihat semangat mereka, seperti melihat ekonomi Indonesia di masa depan (hehehe berlebihan yah).

Ternyata pada tanggal yang sama selain acara ini, di JEC ada pameran lain yang cukup besar yang ada hubungannya dengan kerajinan, Invesda Expo 2012. Kalau ngobrol-ngobrol dengan orang-orang yang udah biasa ikut pameran kerajinan sih, katanya kalau di pameran itu, kita nggak bisa banyak berharap akan terjadi transaksi langsung, tapi nanti akan banyak pelajaran dan pengalaman yang bisa didapat. Okay deh, sepertinya memang masih harus terus banyak belajar.

Bagi yang ada di Jogja, kunjungi stand Fitinline di acara Jogja International Classic Bike Show 2012 di Jogja Expo Center tanggal 23 – 24 Juni 2012 !

It's only fair to share...Email this to someoneShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on Pinterest