Tidak seperti pada pameran sebelumnya (Djogja International Classic Bike Show 2012), dimana Fitinline bisa dibilang satu-satunya yang berjualan batik, di pameran kali ini (Jogja Fashion Week), hampir semuanya berjualan batik. Tidak hanya batik yang ada di Jawa, tetapi juga batik dari luar jawa (sumatera, kalimantan sampai papua — ternyata khasanah batik di Indonesia sangat beragam). Peserta pameran juga umumnya pengrajin batik yang sudah punya nama dan sudah exist bertahun-tahun, dimana mereka sudah punya loyal customer. Tidak hanya itu, harga yang ditawarkan juga sangat variatif dengan range harga yang cukup lebar, mulai dari yang berharga puluhan ribu sampai yang jutaan rupiah. So, dimana posisi fitinline berada? πŸ™‚

Harus diakui bahwa pameran kemaren menjadi semacam ujian mental bagi pemula bisnis sepertiku. Melihat banyaknya pelaku bisnis, ketatnya kompetisi, betapa kreatifnya orang-orang yang ada di industri ini, betapa jauhnya posisi saat ini. Ibaratnya yang lain sudah tamat kuliah aku masih kelas TK NOL KECIL. Kalau harus head-to-head competition saat ini, bisnisku pasti mati. Takut?? Cengeng!! kalo kata ibu Petty S Fatimah. Kebetulan kemarin juga ada one day workshop mengenai wanita wirausaha bersama Femina dan Anne Avantie. Betapa tidak mudahnya untuk bisa exist dan sukses di industri ini, bahkan menurut ibu Anne Avantie ‘Kalian pikir orang-orang yang sering tampil di panggung peragaan busana itu tidak terseok-seok?’ Namun ibu Anne Avantie yang ‘hanya’ lulusan SMP membuktikan kalau dia bisa. Tidak ada kesuksesan yang bisa diraih tanpa keuletan dan kesabaran πŸ™‚

Banyak stan yang mengeluh akan sepinya pengunjung, terutama stan-stan dari luar jawa. Kalau aku lihat memang pengunjung hanya rame pada saat fashion show. Ada juga beberapa stand yang rame, yang umumnya menjual barang yang murah meriah dan populer. Di Fitinline sendiri hanya beberapa transaksi yang terjadi selama 5 hari itu, dan ternyata banyak juga yang mengalami hal yang sama. Yang paling laku di Fitinline adalah flyer dan kartu nama πŸ˜€ bahkan sampai di hari terakhir kita benar-benar sudah kehabisan danΒ  ketika ada orang yang minta, aku kasih saja bon penjualan yang ada tulisan alamat/kontak fitinline. Ya mudah-mudahan setelah ini akan ada follow-up nya πŸ™‚

Dari awal, seorang teman juga sudah mengingatkan akan hal ini, tetapi aku pikir akan ada banyak hal yang bisa aku pelajari di pameran ini. Aku mengikut pameran ini dengan mendaftar melalui disperindagkop Yogya. Aku jadi tahu bahwa dunia UKM ternyata sudah cukup maju. Di Yogya sendiri banyak fasilitas yang disediakan untuk UKM, mulai dari balai bisnis yang yang memfasilitasi UKM melakukan promosi sampai pengurusan hak intelektual, ada balai diklat yang memberikan pelatihan secara gratis untuk hal-hal yang dibutuhkan oleh pelaku UKM dan banyak fasilitas lainnya. Aku juga melihat ada kelompok UKM yang disponsori oleh Dinas perindustrian dan IOM yang membuat katalog produk yang luar biasa bagus. Aku melihat ada upaya dari pemerintah yang serius untuk membangkitkan kewirausahaan dalam hal ini Usaha Mikro dan UKM. See? tenyata di Indonesia masih ada hal-hal baik selain korupsi dan permainan politik πŸ™‚

Selama pameran, aku lebih banyak melihat-lihat stan lain dan fashion show, mencari inspirasi bagaimana Fitinline sebagai brand baru bisa exist dan diterima pasar. Sebagai pebisnis memang harus jeli untuk mecari pasar yang tepat dengan product yang tepat. Belajar dari salah satu produsen tas lokal yang cukup sukses, mereka benar-benar pandai membidik pasar, memberikan produk yang tepat sasaran baik secara bentuk/desain maupun harga, dan melakukan marketing produk dengan sangat baik. Selama 2 thn berdiri, saat ini mereka mempunyai 10 AE (Account Executive) yang semuanya bergerak di facebook dengan rata-rata order per bulan 1000 order untuk setiap AE. Kalau dilihat harga produk mereka sekitar 150rb, artinya per bulan mereka punya pendapatan sekitar 1,5M! luar biasa untuk sebuah UKM yang baru berjalan selama 2 thn. Aku juga banyak melihat UKM yang menawarkan produk yang unik, seperti salah satu produsen batik yang mempunyai produk batik yang sangat colorful dan anak muda. Untuk pengrajin yang sudah exist puluhan tahun mereka punya basis customer yang kuat sehingga harga sudah tidak menjadi masalah. Selain itu, mereka juga menawarkan variasi produk dan harga yang sangat beragam, seperti batik lasem yang menawarkan produk dengan range harga antara 50rb sampai dengan jutaan rupiah. Brand juga sangat berperan penting dan mempunyai nilai jual, kemeja batik printing dengan brand ternama bisa dijual hingga 400-an ribu rupiah, sementara ada yang menjual kemeja batik printing dengan harga hanya 30rb rupiah.

Untuk Fitinline sendiri yang masih sedang mencari bentuk, memang banyak hal yang harus dipikirkan dan dirancang kembali. Jika segmen pasarnya adalah kalangan atas dengan premium product, berjualan lewat internet sepertinya bukan hal yang tepat. Jika penjualan dilakukan lewat internet, yang pada umumnya pengguna internet adalah anak muda, tentu produk yang tepat adalah yang murah meriah, unik dan mengikuti trend. Sekarang lagi terpikir untuk membuat produk yang benar-benar mencirikan Fitinline, mulai dari motif batik dan model. Kemarin aku sempat bertemu dengan beberapa desainer muda yang mengikuti peragaan busana (ternyata sebagian masih kuliah lho), dan juga desainer motif batik, rencananya di pameran berikutnya (Oktober), Fitinline benar-benar sudah punya produk yang unik, sesuai tema dan sesuai pasar.

Aku sendiri bukan seorang desainer, walaupun pengin banget bisa, dan passion ku sebenarnya bukan di desain tapi di manajemen (inipun juga masih blajaran :D). Kalau di Amazing Race, tim yang di urutan terakhir pun berpeluang untuk menang kalau beruntung dapat menyelesaikan Fast Forward. Demikian juga Fitinline, butuh program percepatan untuk bisa melampaui ini semua. Aku butuh orang-orang yang tepat yang bisa membantuku. Sangat riskan memang, karena aku sendiri tidak ahli di bidang yang aku jalani saat ini. Berbicara mengenai resiko, dulu sewaktu masih kerja sebagai karyawan, hal yang paling kusukai adalah “move the risk”. sekarang, sebagai orang yang menjalankan bisnis, buat aku resiko adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari, mungkin juga karena berbisnisnya masih belum jago :). Yang perlu kulakukan adalah membiasakan diri dengan resiko .. dan saat ini yang akan kulakukan adalah put more money, take a bigger risk … bismillah. Sebenarnya beberapa teman ada yang memberi saran untuk kembali ke Jakarta atau fokus ke IT, tapi aku jawab “my life is here right now” πŸ™‚

It's only fair to share...Email this to someoneShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on Pinterest