Alhamdulillah … tak henti-hentinya aku mengucapkan rasa syukur atas segala kesempatan dan kemudahan yang Allah berikan kepadaku. Walaupun secara penjualan hasilnya tidak fantastis tapi banyak hal yang aku dapat dari pameran yang baru aku ikuti kemarin.

Pameran Jogja International Classic Bike Show 2012 berlangsung selama 2 hari, secara umum acaranya cukup lancar dan pengunjung cukup ramai, walaupun kebanyakan yang datang adalah anggota komunitas motor besar/klasik, sedangkan masyarakat umum sepertinya kurang terinfokan. Kalau aku lihat sepertinya promonya kurang, bisa dilihat dengan tiadanya spanduk-spanduk acara ini di tempat-tempat umum. Untuk Fitinline sendiri, untuk yang pertama kalinya ikut pameran, aku cukup puas, stan fitinline tergolong yang paling ‘niat’ :). Stan lainnya umumnya milik anggota komunitas, sampai-sampai ada orang yang nanya ke stan kita, “Ini punyanya orang Harley yang mana ya?” 🙂

Sebelum pameran, kita diperbolehkan loading barang mulai jam 7 malam. Pihak panitia memberikan waktu sampai jam 12 malam, karena setelah itu seluruh area akan ditutup. Maklum barang-barang yang dipajang harganya miliaran rupiah, katanya kalau sampai hilang tutup tanki nya saja bisa bermasalah. Untungnya semua persiapanku sudah rampung, kecuali .. furniture yang aku pesan. Waktu 1 minggu ternyata tidak cukup untuk menyelesaikan pesananku. Jadi pas malam itu furniture datang dalam kondisi belum di-finishing dan tidak cuma itu, modelnya agak beda dengan yang aku pesan :(. Mau marah-marah juga nggak akan ada gunanya, jadi aku bilang saja supaya diselesaikan malam itu, karena besok aku mau pake buat pameran. Jadilah mereka lembur disitu, dan untungnya area tidak ditutup jam 12 karena panitia dan peserta lain juga belum selesai beres-beres. Aku dan anak buahku datang jam 9 (agak telat), dan melihat stand dalam kondisi sudah tertata rapi dan furniture juga sudah selesai dengan cat yang sudah kering 🙂 .. Alhamdulillah.

Hari pertama pagi-pagi masih sepi, aku berkeliling melihat-lihat stan yang lain. Pengin tau aja, apa yang mereka jual dan berapa harganya. Hampir semua stan menjual barang-barang yang ada hubungannya dengan motor, mulai dari jaket, helm, dan asesoris pengendara, dan juga kaos dan baju yang paling tidak ada tulisannya “Harley Davidson”, sepertinya ada kebanggaan tersendiri kalau mengenakan baju dengan tulisan itu. Sedangkan untuk asesoris motornya sendiri, banyak lapak-lapak di luar gedung. Beberapa orang yang datang ke stan fitinline juga menanyakan “ada batik Harley nggak?”. Aku liat ada beberapa stan yang menjual batik printing dengan tulisan dan lambang HD dengan harga yang lumayan untuk sebuah batik printing. Aku sempat tanya-tanya juga ke beberapa orang komunitas yang mampir ke stan fitinline, apakah untuk memproduksi barang dengan nama dan logo seperti itu harus membayar license. Tapi kebanyakan menjawab kalau dijualnya di kalangan internal atau dipakai sendiri katanya nggak masalah, kecuali kalo dijual ke public katanya itu yang akan kena masalah. Bahkan ada bapak-bapak yang memesan batik dengan motif khusus yang ada logo HD nya padaku dengan harga yang tidak masalah :), katanya mau dipake sendiri .. Alhamdulillah peluang bagus nih, kalau hasilnya bagus nanti teman-temannya juga akan ikutan buat (mudah-mudahan). Masalahnya adalah untuk membuat motif batik sendiri, ini baru pertama kalinya mau aku coba hehehhe B-).

Sebenarnya untuk membuat desain motif sendiri, sudah terfikirkan. Kebanyakan perancang yang punya rumah produksi sendiri, mereka membuat desain motif sendiri, jadi motifnya tidak pasaran. Dengan motif yang tidak pasaran itu, mereka menjual produknya dengan harga tinggi, 2x lipat dari harga produkku (dengan kualitas yang sepadan), padahal aku sendiri sudah menerima banyak komplain .. mahal bangettttt :). Untuk mencipkatan desain motif sendiri, ada temanku yang memberikan ide, apapun motif yang diciptakan, sisipkan semacam fractal code yang kalau dibaca berbunyi “istofani” .. keren juga idenya, narsis dikit gak papalah :D. Oya, terkait dengan harga, jika ingin membuat produk yang ready to wear, sepertinya harus banyak melakukan survey harga yang berlaku di pasaran, misal harga sebuah kemeja umumnya berapa sih. Fitnline menjual produk kemeja dengan harga yang lebih tinggi dari pasar karena dari segi material yang dipakai juga beda. Dan untuk pasar umum ini, umumnya orang tidak terlalu memikirkan kualitas material yang digunakan maupun kualitas produk. Tapi ada pasarnya sendiri juga, dimana orang tidak lagi melihat harga, tentu kalangan berduit. Beberapa orang yang datang ke stan fitinline membeli barang yang paling mahal harganya, bungkus! **sampai bengong** Sepertinya akan lebih mudah menjual barang yang murah sekalian atau mahal sekalian, tentu ada pasarnya sendiri-sendiri.

Oya, soal buying decision, ternyata terletak pada ibu-ibu 😀 Beberapa bapak-bapak yang berbelanja umumnya akan bilang “saya tanya ke istri saya dulu ya”, trus dia sibuk telepon atau bbm. Ada juga yang menggunakan kamera bbm mem-foto barang yang akan dibeli dan mengirimkan ke istrinya. Berbeda kalau ibu-ibu yang berbelanja, nggak ada tuh yang bilang “saya tanya suami saya dulu ya” 😀 — paling enggak ibu-ibu yang datang ke stan fitinline kemarin. Dan umumnya kalau ada satu orang yang beli, orang lain akan lebih mudah memutuskan untuk beli. Sama halnya kalau cari tempat makan di daerah yang nggak kita tau, orang cenderung memilih tempat makan yang banyak pengunjungnya, pasti enak nih! .. walaupun kadang-kadang belum tentu juga :).

Hari pertama aku dibantu oleh orang sales-ku, lumayan juga aku jadi nggak banyak “kerja”. Pengalamanku dalam hal berjualan memang sama sekali tidak ada. Sebelum ini, aku belum pernah berjualan apapun :D. Dulu aku males banget kalau ketemu orang sales. Sekarang aku ada di posisi itu hehhehe begitulah dunia. Aku mesti banyak belajar, namanya berbisnis, intinya jualan. Sebagai sales amatiran, otakku belum terprogram untuk terampil berjualan, mulai dari apa yang mesti ditawarkan, bagaimana menyakinkan customer, bagaimana caranya mem-follow up, dsb. Kemarin beberapa ada yang aku miss, mulai dari tidak mencatat kontak customer, menawarkan service lain ketika orang yang datang tidak menemukan produk yang dicari, atau hal lain yang tidak tertangani on the spot. Misalnya kemarin ada bapak-bapak yang sepertinya memang penggemar batik datang ke tempatku sambil memperlihatkan foto-foto motif batik di bb-nya, katanya dia nyari yang seperti itu .. heii kan bisa dibuatkan **lupa** :D. Trus ada ibu-ibu yang pesan supaya di-keep barangnya .. lupa mencatat kontaknya, lupa juga minta dp :(. Juga waktu ada yang mau beli tapi tidak membawa uang banyak, kan bisa dp dulu, dilunasi belakangan dengan cara transfer … lagian untuk daerah Jogja kan bisa delivery service … atau di daerah manapun bisa dikirim barangnya. Ada temanku yang menyarakan untuk beli mesin EDC tapi aku belum tau sih prosedur-nya dengan bank.

Hari kedua aku mulai belajar, ditambah lagi aku nggak dibantu orang sales-ku, hanya dibantu oleh anak buahku. Aku mulai pinteran dikit, mulai dari mendapatkan order desain motif sampai jahitan. Aku juga mulai berkenalan dengan orang-orang di situ. Katanya banyak teman banyak rejeki. Ehh Alhamdulillah ada peluang lain .. mulai dari seragam klub sampai supplier batik dengan motif khusus untuk pemasaran di Jepang. Tapi yang namanya peluang, tergantung bagaimana kita mem-follow up nya dan lagi2 keberuntungan kita 🙂 .. Tapi kalau Allah sudah mentakdirkan itu menjadi rejekiku, aku pasti dapat 🙂 Soal ini aku punya cerita. Di hari pertama, ada seorang ibu yang membeli di tempatku tapi lagi2 nggak bawa uang banyak. “Saya titip dulu ya mba … besok saya kembali”. Siap! Eh di hari ke-2 sampai dengan pameran tutup jam 5, si ibu itu tidak kunjung muncul, tapi aku masih berprasangka baik, mungkin kalo tidak disini, ibu itu akan telpon aku (waktu kemarin aku kasih kartu namaku). Jadi titipan si ibu tetap aku pisahkan. Ehh .. pas banget aku selesai membereskan semua barang dan memasukkan semuanya ke mobil, tiba-tiba si ibu muncul! “mbak, kok tutupnya cepat amaattt!” .. Alhamdulillah, memang sudah rejekiku 🙂

Kejutan lain muncul di last minute, aku ketemu teman SD-ku :D. Yang kuingat dari dia, walaupun co, dia sangat-sangat rapi, bukunya, tulisannya, dan aku walaupun ce dan selalu juara kelas tapi aku termasuk nggak rapi bin males nulis. Sampai-sampai pernah ada bu guru yang membandingkan bukuku dan bukunya: “Anak-anak kalau seperti ini bagusan yang mana???” hehehe
Aku liat tadi mobilmu di depan, jadi aku kemari“, katanya, mulailah kita ngobrol-ngobrol terutama sama istrinya.
Mba nyambi ya?
“Enggak, ini memang kerjaanku sekarang”
Trus kerjaan yang di Jakarta ditinggalin???” tanyanya heran.
“Iya”
Sayang bangeeeetttttttt” (hehehe kebanyakan ‘t’ kali ya). Kalau di kampung, orang mungkin mengenalkanku cukup sukses di Jakarta. Ya, namanya di kampung, kalau pulang kampung bawa mobil artinya sukses hehhehe.
Aku cuma nyengir.
Ehh ternyata setelah ngobrol panjang lebar, aku dapat informasi yang selama ini aku cari-cari, kontak langsung dengan pengrajin batik di Kebumen 😀 Selama ini aku membeli batik dari “juragan batik”, jadi harganya pasti lebih mahal daripada kalau beli ke pengrajin langsung. Tapi memang ada ‘harga’ yang harus dibayar. Kebanyakan batik yang dijual di outlet juragan batik sudah melalui proses QC, jadi bisa dijamin bagus (pada umumnya). Sedangkan kalau beli langsung ke pengrajin, kita harus pandai-pandai memilih dan melakukan QC sendiri. Dari pengalamanku ke pengrajin langsung memang seperti itu, sangat disayangkan memang, kadang pengrajin kurang memperhatikan kualitas. Aku pernah membaca cerita di suatu daerah pengrajin di Jawa tengah **lupa daerah mana** yang 20 tahun lalu berjaya, dengan permintaan produk yang volume-nya lumayan besar. Sayangnya mereka kurang memperdulikan kualitas, sehingga lambat laun pesanan mulai berkurang bahkan tidak ada sama sekali. Sampai akhirnya saat ini, masa-masa kejayaan itu tinggal kenangan. Kabarnya sih saat ini ada yang sedang mencoba menghidupkan kembali kerajinan desa itu.

Begitulah, selama 2 hari ini, walaupun capek, tapi banyak manfaat yang didapat. Termasuk aku berfoto dengan Indro Warkop 🙂 sayangnya dia nggak mau berfoto di depan stan fitinline, katanya dia terikat brand :). 2 minggu lagi ada pameran juga di tempat yang sama, semacam tourism expo, kayaknya ok juga tu. Tapi kabarnya sih biaya sewa stan nya cukup mahal. Beberapa teman memberi saran untuk ambil stan di last minute, biasanya dapat diskon besar. Yang pasti tidak seperti kalau ambil stan di depan, kita bisa pilih posisi, kalau sudah last minute tinggal stand sisa yang nggak diambil orang, itu juga kalau masih ada yang kosong. Tapi sepertinya boleh juga tuh dicoba di last minute, kali2 beruntung hehehhe .. Selain itu sebenarnya banyak pameran lain, termasuk Custom Fest di bulan Oktober (ajang modifikasi mobil/motor) tapi aku mesti atur waktu juga antara penyelesaian pesanan dan keikutsertaanku di pameran, tentu aku juga nggak mau mengecewakan customer-ku.

It's only fair to share...Email this to someoneShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on Pinterest