Yeaayy … ada kesempatan kelayaban lagi! Kali ini mau trip to the west, tapi versi simplified πŸ™‚ Terakhir kelayaban jauh itu bareng Farah dan Ai pada 25 Des 2014, wiiiww hampir 4 tahun yang lalu ya. Versi lengkap catatan perjalanannya bisa dibaca di Trip to the East B-) Awalnya sih pengin ngadain Trip To The West dengan menelusuri sepanjang pesisir selatan jawa barat sampai Ujung Kulon, tapi karena waktunya nggak pernah luang lama, jadilah rencananya diubah dengan menjajal “jalan tol pak jokowi” dari Semarang sampai Cikampek.

Pas banget, tgl 9 September aku diundang ke Semarang untuk mengisi acara Future Leader Summit. Dan kebetulan tgl 11 September itu hari libur. Jadilah aku bikin rencana untuk Trip to The West dengan tujuan utama jalan-jalan ke Ciwidey bareng alumni Trip To The East, Farah dan Ai. Sayangnya Farah sedang ada pekerjaan kantor walaupun hari libur, rajin ya πŸ˜€ Tapi kita tetap pergi bertiga bareng Ai dan Dewi. So exciting! Tak lupa aku siapin mobilku supaya benar-benar fit, maklum ini GV umurnya udah 10 thn πŸ™‚ Cek remote key yang sepertinya baterainya sudah loyo, dan mampir ke Shop &Β  Drive untuk cek Aki. Olala, ternyata akinya tinggal 30%. Untuk pemakaian dalam kota sih tidak masalah, katanya bisalah tahan 2 bulan. Kalaupun ada masalah, gampang aja tinggal call S&D. Tapi untuk perjalanan jauh, sepertinya sangat beresiko, kalau mogok di daerah2 yang sulit dijangkau gimana dong. Nggak mau ambil resiko, aku putuskan untuk mengganti aki malam itu juga.

[2018.09.08] Pagi itu sebelum aku berangkat ke semarang, aku sempatkan mampir ke Innovative Academy UGM untuk membuka kelas Training To Trainer (TTT) Fasilitator WomenWill Jogjakarta. Sebenarnya ini acara dari Gapura Digital / Google Indonesia, tapi berhubung selama ini aku yang mulai kegiatan WomenWill under Google Business Group (GBG) di Yogyakarta, aku diminta untuk membuka acara tersebut. Selama ini kita juga sudah kerjasama untuk acara #PerempuanMerdeka dengan mendatangkan Fasilitator WomenWill dari Surabaya.

Singkat cerita jam 10 aku mulai jalan dari Yogyakarta. Jalur yang kutempuh melewati Magelang – Bawen dan masuk ke Tol Bawen – Semarang. Jalur ke Magelang hari itu sangat ramai, di beberapa lokasi macet, mobil berjalan tersendat. Oya, aku belum beli e-Toll Card nih, secara sekarang mungkin hampir semua gerbang tol hanya menerima pembayaran secara elektronik. Dari 3 toko IndoMaret sepanjang jalur Bawen tidak ada satupun yang menyediakan eToll Card, katanya sudah lama kosong πŸ™ Duh, mana ini sudah sampai ujung jalan sebelum masuk tol! Pikirku mungkin nanti di pintu tol ada counter khusus yang menjual e-Toll Card.

Jalur Yogyakarta - Semarang

Jalur Yogyakarta – Semarang

Akhirnya aku tetap melajukan mobilku masuk ke jalur tol dan upssss … sampai depan gerbang tol Bawen tidak terlihat ada counter khusus yang menjual e-Toll Card! Mana saat itu kondisi sepi dan tidak ada celah untuk memutar balik. Aku lihat di seberang jalan ada kantor Jasa Marga, mungkin di situ ada yang menjual e-Toll Card atau minimal ada orang yang mau membantu πŸ™‚ Aku menepikan mobilku sekitar 50m dari gerbang tol, aku pikir di situ cukup aman dan tidak menghalangi mobil lainnya yang akan masuk ke gerbang tol. Aku mesti berjalan melintasi gardu-gardu tol untuk sampai ke seberang dan ternyata … di gardu tol paling kiri ada petugas yang berjaga, dan benar saja di situ dia menjual e-Toll Card, 70rb untuk nominal 50rb. Dan ternyata eh ternyata yang namanya e-Toll Card itu ya kartu e-money (hihi katro ya), dan yg kudapat disitu kartu Bizzy keluaran BRI. Tau gitu aku bisa beli sembarang kartu e-Money semacam Flash BCA.

Gerbang Tol Bawen

Gerbang Tol Bawen

OK, tancap gas deh! Dalam waktu kurang lebih 30 menit aku sudah sampai pintu keluar tol Jatingaleh yang paling dekat dengan pusat kota Semarang. Walaupun aku sama sekali tidak tahu kota Semarang tapi tenang saja, ada Google Map yang sangat membantu. Selain menampilkan peta, Google Map sudah bisa memberi info mana jalur yang satu arah, mana yang ferboden dan memberi info jalur yang tercepat untuk dilalui. Sampai tujuan aku memilih untuk istirahat karena hari itu sebenernya hari itu aku sangat mengantuk, semalem mesti menunggu orang S&D ganti aki sampai jam 23 karena ada miskon πŸ™

Tarif Tol Bawen – Ungaran Rp 8.000
Tarif Tol Ungaran – Semarang 7.500
Total = 15.500 (Bawen – Ungaran – Semarang)

[2018.09.09] Pagi berikutnya aku mengisi salah satu kelas Discovery Panel di acara Future Leader Summit, temanya tentang Design Thinking. Luar biasa sekali anak-anak muda ini, datang dari seluruh daerah di Indonesia, berkumpul di Semarang atas biaya sendiri lho! Niat banget ya πŸ™‚ Semuanya masih mahasiswa, dari berbagai disiplin ilmu, belajar bersama, berkumpul dan bersinergi dalam wadah itu. Diskusi berjalan sangat seru, karena masing-masing berasal dari background ilmu yang berbeda-beda dan aku mesti menjawab, minimal memberikan opini atas pertanyaan-pertanyaan mereka. Mudah-mudah kalian semua nanti sukses ya!

Future Leader Summit

Future Leader Summit

Cuaca di Semarang siang itu sangat panas, aku liat suhu di dashboard mobilku mencapai 39 C , Wowww .. mau jalan rasanya malas sekali. Aku memilih untuk mendinginkan diri di kamar sambil memeriksa pekerjaan anak-anak kantorku.

[2018.09.10] Pagi sudah menunjukan pukul 07.00, saatnya berangkat! Bismillah! Pagi di hari Senin tentu jalanan akan sangat ramai karena banyak orang yang berangkat bekerja/bersekolah. Dan benar saja, pagi itu di beberapa titik macet dan itu tidak hanya di tengah kota tapi di jalan menuju luar kota Semarang. Ternyata ada penyempitan jalan, dari 8 jalur menjadi 2 jalur. Okaylah kasih jalan buat yang mau duluan, mereka lebih perlu untuk bersegera pergi bekerja/sekolah, sementara aku di hari itu hanya jalan kelayaban saja hehehe.

Jalur Semarang - Bandung

Jalur Semarang – Bandung

Perjalanan selanjutnya relatif lancar. Tidak banyak pemandangan yang bisa dilihat. Sepanjang jalan terlihat gersang karena musim kemarau kali ini lumayan panjang, hujan masih enggan turun. Bahkan di beberapa titik terdapat spot api atau semak-semak yang terbakar. Saatnya mengisi kartu e-Money ku untuk masuk ke tol berikutnya. Saldoku saat itu tinggal 50 rb-an dan itu tidak cukup untuk masuk ke tol berikutnya. Kalo baca-baca informasi di internet, jalur tol dari Semarang – Jakarta bisa menghabiskan biaya 200rb an, belum lagiΒ  nanti lanjut tol ke Bandung. Aku memilih berhenti di Alfamart, tapi pengisian Brizzy ternyata tidak mulus, paling tidak dari 2 Alfamart yang aku coba, semua sistemnya sedang bermasalah πŸ™ Dan di AlfaMart yang ketiga baru bisa. Untuk jaga-jaga aku isi 300.000. Sisa saldo nantinya bisa digunakan untuk belanja, tapi tidak bisa diuangkan. Katanya sih kartu Brizzy memang lebih sulit untuk pengisiannya karena jumlah counter pengisian masih sedikit. Dibanding dengan kartu Flash BCA, jumlah counter pengisian lebih banyak, bahkan bisa mengisi di ATM BCA yang dilengkapi dengan fasilitas swipe card.

Karena tidak mengagendakan acara lainnya, aku terus melajukan mobilku .. Kendal .. Pekalongan .. Pemalang.. Seharusnya aku bisa masuk tol dari Pemalang (Tol Pemalang – Pejagan). Sayangnya jalur tol fungsional masih ditutup. Oklah, no problemo .. Tegal .. Brebes, aku tidak berhenti supaya sampai di Bandung hari masih terang. Aku masuk tol melalui pintu tol Brexit Timur. Hari itu jalan tol sepiii, hanya ada beberapa kendaraan, dan aku bisa melajukan mobilku dengan kencang, wuzz sampai 160 kph, cukupppp! Si GV ini ternyata masih OKE! Tapi lebih baik hati-hati deh, di jalanan bukan cuma ada aku, mending tetap di kecepatan yang aman saja 120 kph. Kata beberapa orang yang mencoba jalur tol ini, karena saking panjangnya dan lurus-lurus aja bikin orang jadi mengantuk dan bosan. Ini bahaya. Suhu udara saat itu juga tinggi, sekitar 37 – 38 C, aku malah takut roda yang menggesek aspal terus menerus dalam kecepatan tinggi dan di cuaca yang sangat panas bisa meledak, hiiii jangan sampai deh, sepertinya juga belum pernah ada kasus seperti itu. Pemberhentian (Rest Area) dari Brexit sampai Cirebon juga masih jarang. Aku memilih berhenti di daerah Majalengka. Rest Area di sepanjang jalur itu masih gundul, maunya sih mobilnya bisa berteduh sebentar tapi ternyata tidak ada tempat berteduh sementara cuaca siang itu sangat terik. Oklah, orangnya saja yang berteduh di resto ber-AC sambil cek-cek pekerjaan dan orderan πŸ˜€ (maklum di hari Senin itu kantor Fitinline.com kan buka).

Lanjut lagi .. perjalanan masih panjang. Jalur tol dari Cirebon ke Cikampek lumayan ramai. Tak terasa lho perjalanan di sepanjang jalan tol akhirnya membawaku sampai ke persimpangan di Cikampek. JiaahhΒ  … belokan ke arah Bandung malah terlewati πŸ™ Kupikir itu pintu keluar, ya udah deh cari pintu keluar terdekat. Aku berenti lagi di Rest Area di daerah Cikarang Timur untuk melihat peta dan mencari pintu keluar terdekat. Sementara telponku berdering dengan riang πŸ™‚ Eh ibuku yang menelponku dengan nada yang sangat panik, “Kenapa nggak belok ke arah Bandung?” Hehe namanya juga kebablasan. Oya, di keluarga kami, supaya bisa tahu keberadaan satu sama lain, kami pakai aplikasi android yang namanya Family Tracker Life 360. Niatnya sih buat bikin tenang, eh malah bikin panik ya hahahha. Untung pintu keluar dan memutar tidak jauh dari situ, keluar pintu Cikarang Timur langsung memutar balik masuk tol lagi.

Tarif Tol Cikampek-Palimanan Rp 102.000
Tarif Tol Palimanan-Kanci Rp 12.000
Tarif Tol Kanci-Pejagan Rp 24.000
Tarif Tol Pejagan-Brebes Timur Rp 20.000
Tarif Tol Cikarang-Cikampek Rp 10.500
Total 168.500

Uhh, udah lama sekali aku nggak melewati jalur Cikampek – Cileunyi. Jalur ini dulunya sering banget aku lewati kalau pulang kampung (Jakarta – Kebumen) karena aku lebih memilih melalui jalur selatan. Alhamdulillah sampai di Bandung baru sekitar jam 4 sore. Dan herannya aku nggak merasa capek sama sekali. Biasanya sih kalo lagi dalam kondisi super exciting, aku malah lupa kalo badannya udah capek, biasanya 3 hari kemudian aku baru ingat kalo ternyata aku capek πŸ˜€

Tarif Tol Cikarang-Dawuan IC Rp 8.000
Tarif Tol Dawuan IC-SS Padalarang Rp 39.500
Tarif Tol SS Padalarang-Pasteur Rp 3.500
Total 51.000
In Total untuk biaya tol = 235.000

[2018.09.11] Pagi hariΒ  itu aku sudah janjian sama Ai dan Dewi di stasiun kereta Kebon Kawung (Bandung) jam 9 pagi, mereka pakai kereta paling pagi dari Jakarta. Kereta datang tepat waktu, tak lupa kami minum kopi terlebih dulu supaya tidak mengantuk dan mulailah perjalanan kami ke Ciwidey. Ada banyak tempat wisata di Ciwidey, tapi tujuan utama kami ke Situ Patenggang dan Kawah Putih. Jarak kota Bandung ke Ciwidey sekitar 49 km dan bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam kalau lancar πŸ™‚ Tinggal ikutin Google Map aja dah, masuk ke tol Soreang dan menyusuri jalan ke Ciwidey yang keliatannya cuma satu-satunya.

Tarif Tol Soreang – Pasir Koja = 7.000

Jalan mulai macet ketika melewati pasar, pertigaan, mobil berjalan satu-satu karena dari pertigaan yang masing2 2 jalur menjadi 1 jalur. Dan itupun belum terurai, jalannya menyemut, di tanjakan pula. Untungnya GV dengan transisi otomatis sudah dilengkapi dengan fitur hill-start-assist-control sehingga mobil tidak bergerak mundur saat di tanjakan. Ternyata di depan ada sisi jalan yang longsor, itu kenapa mobil dari 2 arah digilir untuk melewati tempat itu. Setelah melewati longsoron itu, jalur ke arah Ciwidey mulai menanjak tajam dan curam, jalanannya juga ramai jadi di beberapa titik tersendat. Alhamdulillah GV ku masih fit, setelah digeber di jalan tol, langsung diajak mendaki gunung dan masih OKE πŸ™‚

Jalur Bandung - Ciwidey

Jalur Bandung – Ciwidey

Sampailah kami di kawasan Wisata Ciwidey! Ternyata spot wisata satu dengan yang lainnya ada dalam 1 kawasan, dekat satu sama lain. Kita tinggal pilih aja mau masuk ke kawasan wisata yang mana. Tujuan pertama kami ke Glamping Lakeside, Situ Patenggang. Di tempat itu terkenal dengan perahu besar di tepi danau Situ Patenggang yang sangat instagramable. Dengan membayar tiket masuk 50.000 per orang, kita dapat tiket terusan ke jembatan pinisi, taman kelinci, teras bintang dan patenggang lakeside. Jalan dari pintu gerbang ke pinisi resto ternyata cukup jauh, mungkin sekitar 2 km. Pemandangan di sepanjang sisi jalan sangat indah, kebon teh menghampar luas menghijau, udara juga sangat segar, refreshing.. !! Sampailah kami di pinisi resto, hari itu sangat ramai, mungkin karena hari libur. Parkir penuh, kami sampai harus berputar 2 kali sampai mendapatkan tempat parkir yang cukup dekat dengan jembatan pinisi. Pinisi resto juga sangat ramai, boro-boro mau dapat suasana romantis nan syahdu, cari tempat duduk saja sangat susah. Karena sudah waktunya makan siang, kami coba menu makanan di situ. Rasanya tidak spesial dan harganya cukup mahal jika dibanding dengan harga di luar, ya iyalah ya namanya juga di tempat wisata πŸ™‚ Berikutnya kami mencari spot yang bagus untuk berfoto, sayangnya spot2 foto juga penuh dengan kerumunan orang yang antri untuk berfoto. Okelah, spot seadanya aja, cheese!

Glamping Lakeside, Situ Patenggang

Glamping Lakeside, Situ Patenggang

Air danau situ patenggang terlihat menyusut, karena musim kemarau yang panjang. Jalan menuju ke bawah juga berdebu, pasti karena sudah lama tidak hujan. Walaupun demikian, pemandangan hijau di sekeliling danau masih bisa dinikmati, ditambah udara yang cukup sejuk walaupun kala itu hari cukup terik. Buah-buahan disitu juga murah-murah sekali, strawberry, blackberry, alpukat … yummyy!! Belum lagi gorengan yang masih hangat bikin ngilerrr B-) eh tapi inget bb!

Setelah puas berkeliling di tepi danau, termasuk bermain di taman kelinci, kami memutuskan untuk melanjutkan ke tujuan berikutnya. Keluar dari pinisi resto kami lihat ada papan penunjuk arah ke Teras Bintang, mampir ah! Dan wooowwww!! this place is really cool! Udaranya sangat sejuk, sepi tidak berjejal seperti di pinisi resto, mungkin karena banyak orang yang tidak tahu kalau tempat ini keren banget! Betah mau berlama-lama disitu sambil menikmati hembusan angin dingin yang menyejukkan, hamparan pemandangan luas yang menghijau. Ah, so releaving!

Teras Bintang, Situ Patengang

Teras Bintang, Situ Patengang

Eh tapi waktu sudah menunjukan pukul 15, kami mesti segera bergegas ke Kawah Putih. Sepanjang jalan kami melintasi kebun-kebun teh, sebentar-bentar kami berhenti untuk sekedar menikmati pemandangan dan menghirup udara segar. Lokasi Kawah putih sebenarnya sudah kami lewati tadi, hanya berjarak sekitar 4 km dari Situ Patenggang. Ada 2 cara masuk ke Kawah Putih, yaitu menggunakan kendaraan umum (parkir di bawah) atau menggunakan kendaraan pribadi (parkir di atas). Let’s check the tariff :

– tarif parkir atas: 150.000,-
– tarif parkir bawah: 6.000 + tarif naik ontang anting (Semacam angkot) 15.000/orang.

Parkir di bawah saja deh, udah lama juga nggak naik kendaraan umum #gaya. Lokasi parkir di bawah cukup luas, dan tidak seperti yang aku baca di beberapa artikel di internet di mana akan ada banyak calo berkeliaran dan loket tidak resmi. Saat kami kesitu, sepertinya sudah tertib, tidak ada calo dan kami langsung menuju ke loket resmi. Dengan biaya yang lebih murah tentu ada kekurangannya, yaitu waktu tunggu! Ontang anting hanya akan jalan kalau mobil sudah terisi penuh :(. Setelah menunggu cukup lama akhirnya kami berangkat juga. Dari gerbang depan sampai Kawah putih ternyata cukup jauh, jalanan sempit dan terjal menanjak. Untung deh pake ontang anting, tinggal duduk santai sambil menikmati perjalanan dan menikmati udara yang semakin lama semakin dingin.

Tibalah kami di lokasi Kawah Putih, kondisinya tertata rapi, bersih, bau belerang sudah mulai tercium dari pertama kami masuk. Di situ ada aturan tertulis kalau di areal kawah sebaiknya tidak lebih dari 15 menit, karena udara yang mengandung belarang kurang baik untuk paru-paru. Jalan dari atas ke kawah bawah sudah dilengkapi tangga yang rapi dan tidak tidak jauh, hanya sekitar 50m. Pemandangannya memang menakjubkan! Hamparan putih dan air yang hijau serta cahaya matahari yang memantul berkilauan membuat ingin berlama-lama menikmatinya.

Kawah Putih, Ciwidey

Kawah Putih, Ciwidey

Waktu sudah menunjukan pukul 17, kami harus segera kembali ke Bandung. Ai dan Dewi besok mesti masuk kantor, walaupun malam itu mereka masih menginap di Bandung. Jalan menuju ke Bandung ternyata juga sama macetnya, mungkin karena itu jam pulang, semua orang turun kembali ke Bandung karena besok mesti beraktifitas seperti biasanya. Yah sabar aja deh, malah kita bisa banyak bercerita sambil haha hihi sepanjang jalan, Thanks Ai & Dewi yang sudah menemani aku kelayaban πŸ™‚ … Sampai jumpa di kelayaban berikutnya!!

Trip to the West

Kanan ke Kiri: Aku – Dewi – Ai

It's only fair to share...Email this to someoneShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on Pinterest