Selepas IWC, aku punya banyak pekerjaan rumah. Berpartisipasi di ajang IWC, memberiku pengalaman yang luar biasa, bertemu dengan orang-orang yang bersemangat dan positif .. dan tentu saja aku juga  mendapatkan jaringan baru, membuka pasar yang baru, mendapatkan masukan/inputan yang sangat berharga baik dari sharing dengan sesama peserta maupun dari pada juri/mentor. Saatnya berbenah!

“Kalau malam kamu tidur jam berapa?” Pertanyaan itu sangat menggelitik buatku. Berapa banyak waktu yang aku curahkan untuk membangun bisnisku ini? karena jujur selama ini masih banyak waktu yang aku gunakan untuk bersantai dibanding waktu untuk bekerja. Padahal seharusnya ketika melakukan sebuah inisiasi bisnis adalah waktunya untuk bekerja keras. Tidak ada lagi alasan untuk mengatakan aku baru di bidang ini, ini bukan passion-ku, aku telah melakukan kesalahan. Face it and Fix it! Pengalaman yang lalu tentu menjadi bahan evaluasi yang sangat berguna supaya aku tidak melakukan kesalahan yang sama, supaya aku tidak melakukan hal-hal yang tidak bekerja dengan baik, supaya aku bisa melakukan dengan cara yang lebih baik, supaya aku lebih paham mengenai psikologi pasar dan pelanggan.

Aku juga banyak sharing dengan tetangga-tetangga di komplekku, di seputar rumahku hampir semuanya adalah pebinsis yang sudah menjalankan bisnisnya selama bertahun-tahun. “Aku butuh waktu 5-6 tahun sampai benar-benar paham apa yang pelanggan inginkan!” .. mungkin benar adanya seperti itu, karena tanpa background di industri fashion dan ritel ini, selama 1 tahun ini aku masih merasa kesulitan untuk tahu kemauan pasar. Metode ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) tampaknya memang tidak mungkin tidak dilakukan, karena sulit sekali bagi pemain baru untuk menciptakan trend baru, memaksakan produknya untuk bisa diterima pasar .. karena inti dari berbisnis itu adalah melayani pasar! Salah satu “penyakitku” adalah ketidaksukaanku untuk melakukan hal yang sudah banyak dilakukan oleh orang lain. Terlalu idealis sehingga semuanya harus original dan otentik. Tidak salah memang, tapi sebagai pebisnis pemula tentu harus realistis, bahwa hal yang pertama harus dipastikan adalah memastikan bahwa mesin bisnis bisa berputar terlebih dahulu.

Begitu banyak pintu terbuka untukku, dari hulu sampai ke hilir. Orang cenderung mudah menerimaku, kerjasama mudah aku dapatkan. Media juga sudah bekerja dengan baik. Jaringan distribusiku juga tidak pernah mempermasalahkan produkku. Ada orang-orang yang mau meng-endorse produkku. “Perusahaan besar itu melakukan sesuatu dengan cara-cara yang besar”, begitu kata temanku. Mungkin aku sudah berfikir besar (mungkin malah kebanyakan mimpi B-) ) tapi sudahkah aku melakukan dengan cara-cara yang besar? Apakah cara-cara yang besar itu selalu berbanding lurus dengan biaya besar? Tidak juga! “Aku berbisnis tanpa modal besar”, begitu kata tetanggaku. Jaringan dan kepercayaan sangat penting dalam berbisnis. Kadang masih takjub dengan bagaimana cara orang bisa membesarkan bisnisnya dari 0. Kebanyakan butuh waktu bertahun-tahun! Sabarkah aku untuk melaluinya?

Adakah shortcut? Tentu tidak ada! Setiap pebisnis yang membangun bisnisnya dari 0 harus melewati tahap-tahap yang setiap pebisnis sukses juga menjalani. Percepatan? Bisa! Tapi siapkah untuk menghadapinya? Jika kesiapan itu tepat pada waktunya, ini yang namanya keberuntungan. Luck is opportunity meets preparation! Sampai saat ini aku merasa belum mempunyai konsep yang matang mengenai fashion yang aku usung, sebuah ciri yang membedakan dari produk lainnya yang ada di pasaran. Sebuah ciri yang membuat orang bangga jika memakainya, sebuah ciri yang orang tidak akan mampu menolaknya. Walaupun layanan Fitinline termasuk unik dan kita punya produk pola baju yang mungkin di Indonesia hanya kita yang mempunyai produk semacam ini, apakah pasar membutuhkannya? Bagaimana supaya pasar membutuhkannya?

Sejak mengikuti IWC, traffic ke website www.fitinline.com terdongkrak sampai 6x lipat! Liputan di Tribun News, Kompas mengenai ajang ini dan terutama pemenangnya memberikan efek yang positif ke website Fitinline. Ditunjang lagi, di bulan Agustus 2013 ini juga, kita ada publikasi di majalah Online+. Bagaimana pengaruhnya terhadap konversi? Not too much … hmm .. apa yang salah? Bisa jadi apa yang kita jual tidak melayani apa yang dibutuhkan pengunjung, bisa jadi harga produk dan layanan yang kita jual kurang sesuai dengan segment pengunjung. Masih banyak hal memang yang perlu kita evaluasi mengenai product dan pricing. Sayang sekali jika moment ini terlewatkan begitu saja. Ke depan kita ada liputan di TV, iklan yang continue di sebuah media, dan semua itu tidak berbayar. Sebuah keberuntungan yang tak terduga tentunya.

Selain melalui publikasi, kebanyakan traffic Fitinline datang dari SEO, terutama melalui pencarian kata kunci yang ada hubungannya dengan artikel-artikel yang kita muat. Lucunya, banyak pengunjung yang menyangka kita menjual semua yang kita bahas di artikel. Mulai dari segala jenis kain, segala jenis batik dari berbagai daerah, peralatan jahit menjahit. Sebuah opportunity, karena ada demand. Seorang teman pernah memberikan masukan bahwa apa yang kita lakukan di Fitinline belum inline dengan apa yang kita tulis di artikel, yap, betul sekali! Dan ini salah satu pe-er yang harus diselesaikan. Tapi apakah itu bagus? Karena targeting kita menjadi sangat luas dan tidak fokus ke segment pasar atau product tertentu. Hmm, aku pikir jika bisa melayani lebih banyak segment pasar akan lebih baik. Karena di pasar yang sifatnya monopolistik, revenue stream masih mengandalkan penjualan yang bersifat volume.

Rasanya begitu banyak opportunity yang belum bisa aku manfaatkan dengan baik. Aku masih belum bisa meng-compose product dan layanan yang sesuai dengan pasar, perlu pembenahan internal baik bisnisku maupun diriku secara pribadi. Kadang aku merasa sangat bodoh. Tapi selalu saja dalam hatiku berkata “Mosok gini aja kamu nggak bisa??”, ini yang membuatku selalu bersemangat untuk terus maju dan
berharap bahwa suatu saat semua pembelajaran ini akan berbuah manis 🙂

It's only fair to share...Email this to someoneShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on Pinterest