Tulisan ini harusnya dibuat pada Desember 2014 sebagai bahan renungan akhir tahun .. saat Fitinline berusia 2 tahun 7 bulan terhitung mulai 2 Mei 2012. Nggak terasa waktu begitu cepat dan merasa belum ada apa-apanya… feeling stressful actually B-) Tapi tetep.. semangatt!!

Entrepreneurship adalah tentang waktu. Dulu aku nggak percaya ketika ada yang bilang sebuah usaha itu paling tidak butuh waktu 5 tahun untuk tumbuh dan stabil. Kenapa ada yang sukses dengan begitu cepat? hanya waktu 2 tahun? Apa mungkin yang butuh waktu sampai 5 tahun itu karena terlalu bodoh? Sepertinya aku bisa lebih baik dari itu *pede*. Ini pertanyaan dan pernyataan sebelum aku mulai berwirausaha. Dan nyatanya memang bisa jadi memang benar, waktu! Bukan masalah lamanya, tapi masalah waktu yang dibutuhkan untuk pendewasaan bagi seorang entreprenur maupun entreprise (usaha). Apa sih yang dibutuhkan untuk menjadi seorang entrepreneur yang handal? Apa yang sih dibutuhkan untuk sebuah usaha untuk bisa berdiri, tumbuh dan sukses? Jika ada orang yang “tampak” sukses hanya dalam waktu 1 atau 2 tahun apakah dia memperolehnya dengan cara instant? No! Semua butuh waktu! Bisa jadi dia sukses karena sebelum-sebelumnya memang sudah melalui proses yang panjang untuk kemudian dia bisa mendapatkan “one shoot“. Bahkan kalaupun kesuksesan itu diperoleh karena keturunan .. nenek moyangnya pasti sudah melakukan effort yang luar biasa sehingga kesuksesan itu bisa “diturunkan”. Aku ingat kata temannya (yang sekarang sudah sangat sukses) mengenai rumus 10.000 jam. Jika seseorang melalukan sebuah pekerjaan dengan cara yang konsisten selama 10.000 jam maka dia akan sukses! 10.000 jam itu berapa lama? 10 tahun! owwgh! Dan memang sekarang terlihat hasilnya, orang yang setia pada 1 hal dan menjadi ahli dalam hal tersebut terbukti lebih sukses dan itu bisa dilakukan dengan waktu! Bagi aku, orang yang tidak benar-benar pernah menyukai sesuatu, tidak pernah setia untuk ‘mengekpertisinya’ kemudian berakhir dengan tidak expert pada bidang apapun *sad but true!* What you excel at?

Entrepreneurship adalah tentang proses. Semua butuh proses. Menjadi seorang entrepreneur adalah sebuah proses untuk merubah mindset, sebuah proses untuk merubah karakter, sebuah proses untuk bertransformasi. Merubah mindset dan karakter bukanlah hal yang mudah, ibaratnya kita melakukan brainwash, me-reset otak kita mulai dari 0 lagi, mengosongkannya dan mengisi dengan mindset dan karakter yang baru yang lebih cocok untuk menghadapi bentuk kehidupan yang baru. Dan makin tua usia seseorang, proses ini akan semakin susah walaupun bisa jadi sebaliknya. Pendewasaan seseorang akan melahirkan wisdom (kebijaksanaan) yang akan mempermudah seseorang untuk memahami, menerima dan menginternalisasi sebuah nilai baru. Demikian juga untuk bisnis, proses pembelajaran dimulai dari pada saat bisnis dibangun. Dan bagi orang yang belum pernah terjun di bidang yang dipilih, bisa jadi itu sebuah pilihan bodoh dan berani. Haha! Mungkin sangat membosankan, sudah lebih dari 2 thn tetap “tidak tahu apa-apa”, benarkah begitu? Ya! karena setiap saat selalu ada hal baru yang ternyata aku belum tahu. Belajar, belajar dan belajar!

Entrepreneurship adalah tentang ujian. It’s about kejedug-jedug! Tidak ada perjalanan entrepreneurship yang tanpa ujian. Tidak ada yang bisa menghindarinya. Ibaratnya kita mau naik kelas, harus melalui ujian terlebih dahulu. Ujian bagi seorang entrepreneur adalah setiap saat! Kapan belajarnya? Ternyata belajarnya ya sambil ujian itu :). Ketahanan seorang entrepreur benar-benar diuji. Tidak hanya ujian secara pribadi, tapi ujian dalam bisnisnya sendiri. Bagaimana memperkenalkan bisnis kita, bagaimana menjangkau target pasar, bagaimana menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar, bagaimana melayani pasar, bagaimana unggul dalam kompetisi bisnis, bagaimana bisa bertahan, bagaimana bisa beradaptasi, bagaimana berinovasi, bagaimana bisa bertumbuh, bagaimana bisa menghasilkan uang, bagaimana bisa menggaji pegawai, bagaimana bisa meng-acquire resource, bagaimana bisa menjadi credible, bagaimana bisa menjadi kepercayaan konsumen dan masih banyak lagi. Apakah jawabannya 1? bisa jadi banyak, bisa jadi applicable pada saat itu tapi kemudian situasi berubah dan harus dengan cepat menyesuaikan diri. Adaptasi, agility dan kemampuan untuk mengeksekusi sangat dibutuhkan.

Entrepreneurship adalah tentang kepemimpinan. Adalah sangat penting bagi seorang entrepreneur untuk bisa meng-acquire resourse yang dibutuhkan. Setiap orang punya keterbatasan resourse, dan tugas berat bagi sebuah bisnis adalah mengumpulkan resourse yang dibutuhkan untuk mendukung bisnisnya. Dan ini semua membutuhkan leadership skill yang tinggi. Apa sih leadership skill itu? Leadership skill adalah kemampuan untuk bisa mempengaruhi orang lain untuk mengamini atau mengikuti apa yang dibutuhkan oleh seorang leader. Kemampuan ini bisa dipelajari, tapi membutuhkan waktu, proses dan ujian! Dalam bisnis, kemampuan ini sangat penting dan dibutuhkan di semua aspek bisnis, bagaimana meyakinkan konsumen/calon konsumen, supplier, pihak ketiga, pegawai, rekan bisnis, investor, masyarakat, pemerintah, semuanya! Dan hanya orang dengan kapasitas leadership yang baik yang akan sukses dalam berbisnis!

Fitinline benar-benar memberiku ujian mengenai seberapa tinggi level leadership yang aku miliki, dan aku bisa simpulkan saat ini ‘fairly low‘ ! Mengecewakan? Begitulah! Tapi apa dengan mengetahui bahwa level leadership ku masih sedemikian rendah kemudian lantas menyerah? Tentu tidak! Sebagai seorang yang lebih suka hidup solitaire, perjalanan bisnis ini benar-benar menuntutku untuk “out of me!” Apakah lantas tidak menjadi diri sendiri? Tentu tidak. Tetap ada koridor yang secara prinsip tetaplah aku, tapi ada hal-hal kurang yang memang harus diperbaiki untuk bisa mencapai level leadership yang dibutuhkan.

Mulai Desember 2014, aku mempunyai co-founder, yang memang sangat aku butuhkan saat ini untuk mendukung hal-hal teknis. Aku sangat bersyukur karena dia percaya dengan apa yang aku jalani dan aku usahakan di Fitinline. Tentu hal ini menjadi tanggung jawab berat buat aku untuk menjaga kepercayaannya dan mengusahakan dengan sungguh-sungguh rencana yang sudah dibuat.

Dari acara Business Connect yang diselenggarakan oleh Kementrian Parawisata dan Ekonomi Kreatif (waktu itu), aku mendapatkan kesempatan bertemu dengan salah satu Venture CapitalVenture Capital ini cukup credibel dan mempunyai banyak portfolio startup. Awalnya beliau (sebagai perwakilan dari investor) tertarik dan mengundangku di speed dating, dan yang dikatakan adalah beliau tertarik dengan eksekusiku yang sedemikian bagus *tersanjung!*. Dari situ kemudian berlanjut dengan conference dan komunikasi lewat email dan terakhir diskusi langsung di Jogja. Prosesnya masih due-dilligent mulai dari memahami bisnis dan potensi pasar. Dan seperti  yang lainnya, komentar yang selalu muncul adalah yang kamu kerjakan banyak sekali, coba fokus di 1 hal! Tapi aku punya alasan sendiri kenapa aku melakukan itu, aku butuh beberapa kantong yang saling menunjang satu sama lain untuk menumbuhkan bisnisku. Dalam perjalanannya akan bisa dilihat mana kantong yang menghasilkan, mana yang tidak, mana yang membebani. Memang sih dengan banyak kantong, fokus dan effort-ku akan terpecah. Tapi selama ini, Fitinline yang sepenuhnya mengandalkan trafik organik, mendapatkan trafik dari banyaknya konten yang disuguhkan. Does it convert to money? Yes!, tapi tentu perlu peningkatan volume untuk menbuat bisnis ini benar-benar bisa berjalan dengan baik. Bisnis yang aku jalani memang bisnis “recehan” tapi banyak yang bisa mengubah recehan menjadi triyunan bukan?

Masalah lainnya adalah Fitinline tidak memiliki orang yang background maupun pengalaman di bidang yang dijalani, Fashion. Untuk menjalankan bisnis dibutuhkan paling tidak pengalaman di bidang itu, sedangkan kami None! Beliau mencontohkan beberapa startup yang mereka danai, startup A sudah punya puluhan toko offline sebelum funding, startup B mempunyai background keluarga yang memang sudah puluhan tahun berbisnis di bidang itu, startup C sudah 10 tahun bermain di situ. Fitinline? None! Beliau akan lebih confidence jika ada orang yang bisa menjembatani kekurangan kami di bisnis yang kami pilih, bagaimana caranya?

“Kamu selalu berfikir untuk meng-hire, padahal tidak harus seperti itu! Yakinkan mereka bahwa bisnismu punya potensi yang sangat besar sehingga mereka mau bergabung.”

“Kamu harus bisa meyakinkan itu, bukan hanya kepada investor tetapi kepada pegawaimu, kepada calon partner dan semua”

See? Kemampuan untuk meyakinkan orang lain memang sangat penting. Dan apa yang bisa dijual diawal-awal sebuah bisnis? Mimpi! Tentu tidak sembarang mimpi, tapi mimpi yang memang kita usahakan dengan sungguh-sungguh dan orang harus bisa melihat itu.

Alternatifnya adalah aku harus bisa menunjukan bahwa dengan kekurangan yang ada, aku tetap bisa menumbuhkan bisnis itu, tentu saja dengan traction! Seberapa besar minat orang terhadap bisnis kita, seberapa cepat pertumbuhannya, dslb. Dan beliau masih akan mencari second opinion tentang bisnisku karena masih belum confidence karena ketiadaan figur bisnis. It seems like saying ‘soft No’! probably 🙂 Tapi buat aku pribadi, Fitnline adalah bisnis, yang memang harus berjalan, ada atau tidak ada investor. Dan untuk saat ini, proses dengan investor ini masih menggantung karena di satu sisi aku juga belum update ke mereka karena masih menunggu versi yang terbaru selesai.

Selain itu aku juga menunggu waktu yang tepat, ‘jual’ pada saat kondisi terbaik. Setelah pada akhir tahun mengalami penurunan trafik, selain karena biasanya sebagian besar situs memang mengalami masalah yang sama, juga karena kelalaian yang kami buat sendiri. Aku memutuskan untuk pindah ke cloud server dan waktu itu pilihannya jatuh salah satu penyedia cloud server di Indonesia karena ada beberapa startup ternama yang servernya juga di situ. Layanan support-nya bagus, responsive tapi dalam 1,5 bulan server kami mengalami 2x down dan tidak tanggung-tanggung masing-masing lebih dari 6 jam. Alasannya karena penggantian ini itu untuk memperbaiki performance. Anehnya tidak ada permintaan maaf sama sekali, padahal bagi website yang sudah operasional, down selama 6 jam itu sangat parah. Apalagi pada saat down yang pertama sangat sulit untuk menghubungi support baik melalui ticket, telpon, argghh!! Setelah down ke-2 yang hanya berselang 1 bulan, akhirnya aku menyerah apalagi setelah mendengar cerita beberapa teman bahwa kondisi tersebut sering terjadi di penyedia cloud server tersebut. Akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke penyedia cloud server yang sekarang (yang sayangnya kembali berada di luar negeri) dan so far selama 1 bulan ini baik-baik saja.

Ada 2 hal lain yang aku pelajari di tahun 2014:

  1. Kalau orang jawa bilang “ojo gumunan” (terjemahan Indonesianya jangan mudah takjub hehehe). Beberapa kali aku mendapatkan “angin segar”, opportunity yang kelihatannya wow, tapi ternyata tidak ada apa-apanya, mungkin salahku juga dalam mem-follow up. Satu hal yang pasti adalah no such a free lunch, no free money, nggak ada yang ujug-ujug (tiba-tiba/instant, semua harus diusahakan.
  2. Harmoni itu ditumbuhkan bukan diharapkan. Syahdan *heleh* aku mempunyai kerjasama dengan supplier yang pada awalnya sulit sekali, mulai dari ‘bahasa’ yang berbeda, attitude kerja yang kadang sulit dipahami dan hal lainnya yang membuatku frustasi dan inginnya rasanya mengakhiri hubungan kerjasama tersebut. Tapi 1 hal yang aku dapat dari dia adalah jujur, dan itu hal yang sangat penting buatku, jadi aku putuskan untuk memperlajari apa yang bisa bekerja untuknya dan menggunakan ‘bahasa’ yang sama  dan alhamdulillah sekarang kerjasamanya berjalan sangat baik.

Terakhir, untuk acara malam tahun baru, aku diminta oleh seorang teman untuk membuat video tentang pesan kewirausahaan. Wah-wah aku merasa nggak pantas, karena belum sukses. Tapi baiklah jika itu ada manfaatnya, aku hanya membicarakan tentang apa yang aku yakini sebagai seorang entrepreneur yang sedang berproses.

Seperti apa bisnis Fitinline di tahun 2015? Nantikan ‘penayangannya’ April 2015!
It's only fair to share...Email this to someoneShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on Pinterest